
Dua hari telah berlalu, kini Amara sudah kembali bekerja seperti biasa sebagai seorang sekretaris di perusahaan milik keluarga Aga. Tidak ada yang berbeda dengan sikap Amara pada Aga. Ia masih membantengi diri dengan cara menjaga jarak dengan Aga.
Aga sendiri masih menunjukkan sikap yang sama. Datar dan tak bisa terbaca. Namun satu hal yang Amara dapat rasakan, Aga perlahan mulai menunjukkan rasa perhatian kepadanya. Terbukti hari itu Aga membelikan makan siang untuk Amara di saat Amara sedang sibuk berkutat dengan setumpuk pekerjaan yang ia tinggalkan karena pergi ke luar kota bersama dengan Aga.
Tidak sampai di situ saja, saat waktu pulang bekerja telah tiba, Aga keluar lebih dulu dari dalam ruangan kerjanya tanpa membuat Amara menunggunya keluar lebih dulu.
"Lanjutkan pekerjaannya besok saja. Sekarang sudah waktunya kau untuk pulang." Ucap Aga.
"Apa Tuan Aga sudah ingin pulang?" Tanya Amara.
Aga diam untuk beberapa saat. "Saya akan pulang sebentar lagi. Ingat, langsung pulang dan tidak perlu menunggu saya keluar dari dalam ruangan." Pesan Aga.
Amara mengangguk walau ragu.
Aga membalikkan tubuh untuk kembali melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Amara yang ditinggalkan oleh Aga segera membereskan meja kerjanya dan menyimpan file yang sudah ia edit sebagian.
Setelah selesai bersiap untuk pulang, Amara dengan ragu meninggalkan meja kerjanya. Keraguan di dalam hatinya semakin bertambah saat melihat asisten Cakra keluar dari dalam ruangan kerjanya membawa sebuah berkas di tangannya menuju ruangan kerja Aga.
"Tuan Cakra, belum mau pulang?" Tanya Amara.
Cakra menggelengkan kepalanya. "Saya lembur hari ini, Amara. Kau sudah mau pulang? Kalau begitu langsung pulang saja dan hati-hati di jalan."
Cakra menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Amara.
Amara hendak kembali bertanya namun Cakra segera berpamitan masuk ke dalam ruangan kerja Aga.
"Tidak enak sekali. Masa aku disuruh pulang sementara Kak Aga dan Kak Cakra lembur malam ini?" Gumam Amara.
Tak punya pilihan lain, akhirnya Amara melangkahkan kaki melanjutkan niatnya untuk pulang ke rumah. Ia menghilangkan rasa tidak enak dalam hatinya. Meyakinkan dirinya jika tidak masalah jika ia pulang lebih dulu. Toh Aga yang menyuruhnya bukan?
Beberapa hari setelah hari itu, Aga masih nampak berada di perusahaan di saat Amara sudah pergi meninggalkan perusahaan. Amara pun mulai bertanya-tanya kembali, apa tidak masalah jika ia selalu pulang lebih dulu dari Aga dan Asisten Cakra? Amara jadi tidak enak hati pada akhirnya.
Waktu masih mununjukkan pukul sepuluh pagi saat Aga berpamitan pada Amara untuk pergi ke rumah sakit mengecek luka jahitan di kepalanya satu minggu yang lalu.
"Apa luka Kak Aga sudah kering?" Tanya Amara pelan.
Aga yang mendengarkannya mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu. Ini baru mau dicek oleh dokter. Rencananya hari ini mau dibuka jahitannya." Beri tahu Aga.
Amara mengangguk paham. Sekilas wajahnya nampak tak enak menatap pada Aga. Amara masih ingat dengan jelas jika dirinya lah yang menjadi penyebab luka di kepala Aga saat ini.
Amara kemudian memperhatikan wajah Aga yang nampak sedikit pucat. "Apa Kak Aga tidak apa-apa?" Tanyanya memastikan.