
Degub jantung Amara berdetak tak terkendali sejak Aga memegang tangannya dan mengusapnya. Beberapa kali Amara menghela napas dan menghembuskannya secara perlahan di udara berharap dapat mengontrol jantungnya agar berdetak dengan normal namun tak kunjung membuahkan hasil.
Amara mencoba mengartikan apa yang terjadi pada tubuhnya saat ini. Entah mengapa Amara merasakan jika apa yang ia rasakan saat ini sama persis seperti apa yang ia rasakan beberapa bulan lalu saat masih mengharapkan Aga.
"Ada apa dengan hatiku. Kenapa aku mudah sekali kembali jatuh dalam pesona Kak Aga." Amara merutuki perasaannya sendiri dalam hati. Walau pun begitu, ia tak melepaskan tangan Aga yang masih memegang tangannya.
Aga yang tidak mengetahui apa yang dirasakan Amara saat ini terus saja melajukan motornya membelah jalanan ibu kota. Sesekali kedua sudut bibirnya tertarik ke atas saat merasakan hembusan napas Amara menyapu permukaan lehernya.
"Mau langsung ke mall?" Aga bertanya setelah cukup lama motornya berjalan mengelilingi ibu kota.
"Boleh, Kak. Sepertinya hari sudah cukup panas dan mall juga sudah buka." Jawab Amara setelah melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.
Aga mengangguk tanpa suara. Motor milik Daniel pun akhirnya melaju mengikuti jalan menuju sebuah mall yang cukup terkenal di kotanya.
Beberapa saat berlalu, akhirnya motor pun melaju memasuki area mall. Setelah memarkirkan motor di parkiran, Aga pun meminta Amara untuk turun kemudian ikut turun dari atas motor.
"Bisa membuka helmnya?" Tanya Aga melihat Amara yang sedikit kesusahan melepaskan besi dengan pengaitnya.
"Bisa, Kak." Amara kembali mencoba membuka pengait helm yang entah kenapa tiba-tiba saja macet untuk dibuka.
Aga tak mengeluarkan suara. Namun tangannya kini sudah terangkat dan membantu Amara membuka pengait helm. Pergerakan Aga lantas saja membuat Amara menjadi sangat gugup. Terlebih jarak di antara mereka saat ini sangat dekat bahkan Amara dapat merasakan hembusan napas Aga.
"Sudah," Aga melepaskan helm yang terpasang di kepala Amara lalu meletakkannya di jok motor.
Amara tersenyum kaku. Lidahnya terasa kelu untuk mengeluarkan suara. Sikap Aga hari ini benar-benar membuatnya mati kutu dan tak menyangka.
Amara mengangguk tanpa suara. Kemudian keduanya pun melangkah memasuki mall yang nampak sudah ramai dengan pengunjung walau waktu masih menunjukkan pukul setengah sebelas lewat lima belas menit.
Masuk ke dalam mall, Aga mengedarkan pandangan untuk mencari kursi yang bisa ia duduki. Amara pun turut melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya pandangan keduanya pun jatuh pada sebuah sofa yang berada dekat dengan sebuah toko kosmetik.
"Duduk di sana dulu?" Tawar Aga.
Amara mengangguk kemudian melangkah ke arah sofa.
"Selain berbelanja, kita mau ngapain lagi di sini, Kak?" Tanya Amara setelah menjatuhkan bokong di atas sofa.
Aga diam sejenak untuk berpikir. Kemudian sebuah ide pun muncul di kepalanya. "Apa kau ingin makan dulu?" Tawarnya sebelum mengeluarkan isi pemikirannya.
Amara mengusap perutnya yang belum terasa lapar. "Nanti saja, Kak. Aku belum terlalu lapar."
Aga mengangguk paham. "Kalau begitu bagaimana kalau kita nonton saja. Kebetulan banyak film menarik yang bisa tonton hari ini." Tawar Aga.
Amara mengerjapkan kedua matanya. Merasa tertarik dengan tawaran Aga.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴