
"Astaga, Mara!" Agatha rasanya ingin melempar ponsel yang tengah ia genggam saat ini ke wajah Amara yang sedang tersipu setelah menatap wajah Richard. Bagaimana bisa sahabat baiknya itu terpesona melihat Richard yang terlihat sangat menyebalkan di matanya.
Amara tidak memperdulikan pelototan mata Agatha saat ini. Ia kembali mencuri pandang pada Richard yang sudah berhasil mencuri perhatiannya.
Kedatangan seorang pelayan membawakan minuman pesanan mereka memutus tatapan mata Amara pada Richard.
"Apa kau tidak bisa fokus menatap wajahku saja Mara tanpa menatap wajahnya?" Ketus Agatha kesal.
"Tidak bisa." Sahut Amara cepat lalu menutup mulut dengan kedua telapak tangannya setelah menyadari jawabannya memancing emosi Agatha. "Maaf," cicitnya diikuti senyuman kaku.
Agatha mendengus sebal. Pelayan yang sudah selesai melakukan tugasnya pun berpamitan untuk pergi.
"Sekarang lebih baik kau minum minumanmu dari pada menatap wajahnya!" Titah Agatha.
Amara mengangguk-anggukkan kepalanya lalu menyeruput minumannya sedikit.
Perintah Agatha agar tak menatap lagi wajah Richard tak bisa dilakukan oleh Amara. Sebab, ketampanan pria itu yang sangat paripurna sudah mencuri seluruh perhatiannya. Bahkan jika dibandingkan dengan Rendra dan Aga, Richard jauh lebih tampan dan mempesona.
"Amara... kau ini benar-benar." Agatha akhirnya hanya bisa menghembuskan napas kasar di udara melihat sikap Amara. Tak ingin tersulut emosi melihat kekaguman Amara pada Richard, Agatha memilih menikmati minumannya sambil menatap ke arah samping balkon yang memperlihatkan jalanan kota.
"Maaf mengganggu," kedatangan Richard secara tiba-tiba mengejutkan Amara dan Agatha.
"Kau..." kedua bola mata Agatha melotot sempurna melihat kedatangan Richard.
"Apa aku boleh bergabung di sini?" Tanya Richard tanpa peduli dengan tatapan tidak suka yang Agatha layangkan kepadanya.
"Tentu saja boleh!" Sahut Amara cepat. Ia sampai menggeser kursi agar Richard bisa duduk di kursi di sebelahnya yang kosong.
"Perkenalkan aku Richard," tangan kanan Richard yang kekar terangkat pada Amara.
Amara segera menjabat tangan tersebut. Rasa hangat menjalar di kedua pipinya saat merasakan hangatnya tangan pria tersebut.
"Amara," jawabnya tersenyum malu.
Kedua mata Agatha menyorot tajam pada Amara saat ini. Ingin sekali ia mencubit kedua pipi merona Amara yang tidak tahu malu saat ini.
Jabatan tangan Amara dan Richard terlepas. Kini, tangan kanan kekar Richard terulur pada Agatha yang berada tepat di depannya. "Hai Nona Gatha. Lama tidak bertemu." Ucapnya diikuti seringaian tipis.
"Lama tidak bertemu katanya!" Agatha memberontak dalam hati. Bagaimana tidak, hari-harinya kini dipenuhi wajah Richard. Dan bagaimana bisa pria itu mengatakan jika sudah lama tidak bertemu dengannya? Agatha bisa gila jika mengikuti permainan pria tersebut.
"Wah, belum sehari tak bertemu sepertinya ingatan anda sudah tidak berfungsi dengan benar, ya?" Agatha menerima uluran tangan Richard dan menggenggamnya kuat.
Richard sama sekali tidak meringis akibat perbuatan Agatha, menurutnya, apa yang Agatha lakukan saat ini tidak berarti apa-apa untuk menyakiti tangannya yang kekar.
Agatha jadi sebal sendiri. Ia segera melepaskan jabatan tangan mereka dengan wajah bersungut.
"Agh, sepertinya begitu, Nona Agatha. Ingatan saya sudah tidak berfungsi dengan benar sejak mengenal anda. Sepertinya ingatan saya kini tengah terserang sebuah virus." Richard memasang wajah serius nan menyebalkan.
"Virus apa?" Sahut Amara bingung.
"Virus cinta," kelakar Richard hingga membuat Agatha tersedak karenanya.
***