
Agatha terlonjak kaget mendengar suara teriakan Amara. Ia lantas saja bangkit dari posisi duduk dan memutar meja ke arah Amara.
"Kakiku sakit," lirih Amara sambil memegang kakinya yang menjadi korban keganasan Agatha.
"Anda tidak apa-apa Nona Mara?" Richard ikut panik melihat Amara yang kesakitan. Sebelah tangannya hendak memegang kaki Amara namun Amara dengan cepat mencegahnya.
"Aku tidak apa-apa," ucap Amara seraya meringis.
Agatha yang berada di sebelah Amara mengatupkan kedua tangan pada Amara. "Maafkan aku Mara. Aku tidak sengaja." Cicitnya merasa bersalah. Ia kemudian menatap sekilas pada Richard yang sedang fokus menatap kaki Amara yang nampak memerah.
Amara menghela napas dalam dan mencoba tersenyum menyamarkan rasa sakit. "Tak apa, kakiku hanya sakit sedikit saja." Jawabnya.
Agatha masih memasang wajah tak enak. Richard yang melihatnya pun akhirnya menyadari jika Agatha salah sasaran.
"Sudahlah, lebih baik kita makan makanannya saja. Perutku sudah lapar." Ucap Amara tak ingin memperpanjang masalah.
Agatha tak langsung mengiyakannya. Ia masih saja merasa tak enak hati pada Amara.
"Emh, kalau begitu saya pamit ke meja saya dulu." Ucap Richard ingin memberi ruang pada Amara dan Agatha.
"Iya," jawab Amara sementara Agatha hanya diam saja.
Seorang wanita yang sejak tadi menunggu Richard kembali ke meja mereka nampak memasang wajah jengah setelah Richard kembali ke meja mereka. "Sudah selesai menggodanya?" Tanyanya.
Richard mengulum senyum menyemarkan seringaian tipi di sudut bibirnya. "Bagaimana kalau kita pulang saja. Tante Shanty pasti sudah menunggu kita di rumah Nenek." Ajak Richard.
Wanita itu mengangguk menyetujui. Sebelum pergi meninggalkan kafe, Richard menghampiri meja Agatha dan Amara lebih dulu untuk berpamitan pulang.
"Maaf," cicit Agatha diikuti senyuman kaku.
Amara tak melanjutkan rasa sebalnya. Ia mengajak Agatha kembali melanjutkan menghabiskan makanan karena masih ada hal yang harus mereka bahas terutama tentang Richard.
**
Setelah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di kafe lalu berjalan-jalan di mall, akhirnya Amara dan Agatha pun memutuskan untuk pulang.
Perjalanan menuju pulang kini Agatha manfaatkan untuk bertanya tentang perasaan Amara pada kakaknya. Agatha ingin memastikan bagaimana perasaan Amara pada Aga saat ini.
"Aku juga tidak mengerti apa yang aku rasakan saat ini, Gatha. Yang jelas, tidak semudah itu melupakan pria yang sudah bertahun-tahun mengisi hatiku walau dia tidak pernah membalas cintaku."
Agatha menoleh sejenak ke arah Amara yang duduk di sebelahnya. Dapat ia lihat kesedihan di wajah Amara saat mengatakannya.
"Aku mengerti, Mara. Aku juga tidak memaksamu untuk terus menunggu kakakku."
Amara menarik tipis kedua sudut bibirnya. Enam tahun bukan lah waktu yang sebentar untuknya memendam rasa cinta dan mengharapkan balasan cinta dari Aga yang hanya menganggapnya sebagai seorang adik.
"Mungkin kami tidak berjodoh, Gatha. Kak Aga hanya menganggapku sebagai seorang adik. Dan aku juga sudah belajar menganggapnya sebagai seorang kakak saja."
"Bagaimana bila perasaan Kak Aga padamu kini bukan lagi sebatas adik dan kakak?"
Pertanyaan yang dilontarkan Agatha berhasil membuat Amara hening untuk waktu beberapa saat. "Aku rasa tidak mungkin. Kak Aga bahkan sudah dekat dengan Kak Anjani. Lagi pula, aku sedang membuka hati untuk Rendra. Pria baik hati yang sudah mengorbankan waktu dan hatinya untukku."
***