
Aga memilih tetap diam menunggu sampai Amara menjawab pertanyaannya.
Setelah hening dalam waktu yang cukup lama, akhirnya Amara pun menjawab pertanyaan Aga. "Dua hari lagi, Kak."
Aga menganggukkan kepalanya. Dapat ia lihat kesedihan yang kini Amara rasakan lewat tatapan matanya yang sendu.
"Kalau begitu aku akan menemanimu datang ke pernikahannya."
"Apa?" Amara terkesiap.
"Ya, bukankah dia mengundangmu untuk datang ke pernikahannya? Tidak mungkin kan dia tidak mengundangmu datang ke hari pernikahannya?"
Amara mengangguk lemah. Walau sebenarnya kemarin Rendra nampak enggan mengundangnya untuk datang ke hari pernikahannya, namun Rendra tetap melakukannya mengingat Amara adalah teman baiknya sejak lama.
"Apa Kakak serius mau menemaniku datang ke pernikahan Rendra?" Tanya Amara.
"Ya. Jika kau tidak keberatan aku akan menemanimu datang ke sana."
Amara kembali diam untuk berpikir. "Tapi bagaimana dengan Agatha?" Tanya Amara dalam hati karena seharusnya ia dan Agatha pergi berdua ke acara pernikahan Rendra.
"Untuk Agatha kau tenang saja, dia pasti bisa mencari pasangannya untuk datang ke sana." Ucap Aga seolah mengerti dengan apa yang Amara pikirkan saat ini.
Amara terkesiap mendengar perkataan Aga yang seakan tahu isi pemikirannya.
"Bagaimana?" Tanya Aga.
Amara akhirnya mengangguk mengiyakannya. Respon yang diberikan Amara pun lantas saja membuat Aga menarik kedua sudut bibir. Dengan Amara pergi bersamanya ke acara pernikahan Rendra nanti, maka Aga akan memastikan jika Amara tak akan meneteskan air mata melihat Rendra menikah dengan wanita lain.
**
Menghabiskan sisa waktu bersama dalam perjalanan pulang Aga manfaatkan dengan mengajak Amara bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing. Amara yang merasa penasaran dengan kehidupan Aga beberapa tahun belakangan ini meminta Aga untuk bercerita. Aga pun tak merasa keberatan untuk menceritakannya. Ia bercerita tentang kehidupan yang ia lewati pasca berpisah dari Naina hingga akhirnya tiba di hari ini.
Mendengar cerita Aga tentang caranya mengikhlaskan wanita yang dicintainya hidup bahagia bersama orang lain membuat hati Amara terasa tersentuh. Di balik sikap Aga yang datar dan dingin, ternyata Aga menyimpan banyak kebaikan di dalam dirinya.
"Aku pikir Kakak masih mencintai Kak Naina sampai saat ini." Cicit Amara pelan.
Aga yang dapat mendengar perkataan Amara walau samar pun menoleh ke arah belakang agar dapat melihat wajah Amara. "Ternyata kau sering berpikiran yang buruk tentangku ya gadis kecil..." suara Aga terdengar mengalun.
Amara tertegun mendengar Aga menyebutnya seorang gadis kecil.
"Untuk apa aku memikirkan wanita yang sudah menjadi istri orang? Sejak awal aku merelakan Naina untuk bersama dengan Daniel, maka sejak itu lah aku belajar untuk tidak mengingatnya lagi."
"Kak Aga hebat sekali..." cicit Amara lagi. Menurutnya, tidak mudah untuk melupakan seseorang yang sangat mereka cintai. Terbukti pada dirinya sendiri, setelah lima tahun berlalu, ia masih saja menaruh perasaan yang besar pada Aga walau Aga hanya menganggapnya sebagai seorang adik.
"Aku tidak hebat. Aku merasa kau lebih hebat." Puji Aga seraya menyematkan senyum.
"Kenapa Kak Aga berbicara seperti itu?" Tanya Amara.
"Ya, karena kau bisa memendam rasa cintamu kepadaku hingga lima tahun lamanya tanpa aku sadari sedikit pun."
***