Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Beda Kasta


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore saat Amara sedang bersiap-siap untuk pulang. Hampir seharian bekerja ditambah mendengar gosip tentang dirinya membuat Amara menjadi sangat lelah. Ia ingin segera tiba di rumah dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Amara," suara Aga terdengar memanggil namanya saat Amara hampir selesai bersiap.


Amara menoleh. Menatap ke sumber suara dimana Aga berada. "Tuan sudah mau pulang?" Tanyanya sekedar basa-basi. Tanpa bertanya pun Amara harusnya sudah tahu jika Aga sudah mau pulang melihat penampilan Aga saat ini.


"Ya, apa kau mau pulang bersama?" Aga kembali menawarkan pada Amara. Dan tentu saja ajakanya itu ditolak dengan Amara. "Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu." Aga berpamitan. Sebenarnya ia ingin menunggu Amara untuk keluar dari perusahaan bersamanya. Namun Aga harus buru-buru mengingat ada suatu hal penting yang ingin Papa Andrew bicarakan kepadanya.


Amara mengangguk mengiyakannya. "Hati-hati di jalan, Kak." Ucapnya kembali berbasa-basi. Ia berucap tidak formal sebab Aga yang memulai.


Aga mengangguk kemudian melangkah meninggalkan meja kerja Amara.


Huft...


Amara merasa lega setelah kepergian Aga. Entah mengapa pasokan oksigennya selalu terasa berkurang jika berada dekat dengan Aga.


Tak berselang lama setelah kepergian Aga, Amara memilih bangkit dari posisi duduk. Meninggalkan meja kerjanya berniat untuk pulang.


"Nona Amara sudah mau pulang?" Seorang OB yang baru saja keluar dari dalam ruangan pantry bertanya pada Amara yang sedang melintas di depannya.


"Iya. Kau belum pulang?" Tanya Amara.


"Sebentar lagi, Nona. Mau membersihkan ruangan Tuan Aga dulu."


Amara mengangguk paham kemudian berpamitan melanjutkan langkah.


"Amara, bolehkan kau memberikan tips dan trik jitu kepadaku bagaimana caranya mengambil hati presdir? Aku lihat kau dan kakakmu sangat pandai mengambil hati pemilik perusahaan sehingga pemilik perusahaan jatuh hati pada kalian yang tidak sederajat dengan mereka." Ia bertanya sekaligus menyindir.


Amara mencoba sabar. Inilah resiko jika dirinya yang berada di kalangan sederhana dengan dengan pria di atas rata-rata. Pasti banyak orang yang syirik dan dengki kepadanya.


"Tips dan triknya cuma berhati bersih saja. Jika kau berhati bersih dan tidak suka mengurus urusan orang lain maka pria mana pun akan mudah jatuh hati kepadamu." Amara menjawab seraya mengulas senyum. Namun di dalam hati ia sangat ingin mencaci wanita yang berada di dekatnya saat ini.


Wajah wanita itu nampak tak bersahabat setelah mendengar jawaban Amara. Ia pun mengeluarkan perkataan yang lebih menyakitkan untuk Amara.


"Aku rasa untuk kalangan bawah seperti kita ini harus cukup sadar diri untuk tidak mengharapkan cinta orang kaya apa lagi pemilik perusahaan. Jika pun mengharapkannya jangan sampai menghayal untuk bisa memilikinya. Atau bahkan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.."


"Maksudnya bagaimana, ya? Saya tidak mengerti tuh." Amara masih berucap santai walau dirinya sudah sangat geram saat ini.


Huh!


Wanita itu hendak menyahut. Namun pintu lift sudah terbuka di lantai lobby hingga membuat perkataannya menggantung di udara.


Amara pun keluar begitu saja dari dalam lift tanpa menunggu wanita yang tadi mengajaknya berbicara. "Kenapa dia hanya menilai seseorang dari kastanya saja? Sungguh menyebalkan!" Gerutu Amara.


***


Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴