Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Salah Sangka


"Hay, Amara." Aga tersenyum manis pada pujaan hatinya yang nampak sudah cantik paripurna.


"Hay..." Amara tersenyum kaku. Masih menatap kemeja batik yang Aga kenakan saat ini. "Ngomong-ngomong baju yang kita kenakan sama ya, Kak." Ungkap Amara.


"Oh ya..." Aga melihat sejenak batik yang ia kenakan. "Aku memang sengaja membelikan baju couple untuk kita."


"Hah?" Amara terperangah. Ternyata Aga sudah berniat demikian sehingga repot-repot mengirimkan baju dari butik ke rumahnya kemarin sore.


"Iya. Kita kan menjadi partner datang ke nikahan Rendra. Jadi tidak masalah bukan jika partner memakai baju yang sama. Aku pikir itu akan terlihat manis."


Amara dibuat tak dapat berkata-kata. Ia seakan tak melihat sisi kaku Aga yang dulu sering Aga perlihatkan kepadanya. Aga yang berada di depannya saat ini terkesan lembut dan... manis.


Ehem


Deheman Ayah Arif yang baru saja keluar dari dalam rumah mengalihkan perhatian Aga dan Amara ke sumber suara.


"Paman..." Aga berjalan mendekati Ayah Arif kemudian menyalaminya.


Ayah Arif menarik kedua sudut bibir membentuk senyuman menatap pada Aga. "Sudah mau berangkat, ya?" Tanya Ayah Arif.


Aga menoleh ke arah Amara meminta jawaban.


"Emh, iya, Ayah. Apa Ibu sudah selesai mandinya?" Tanya Amara.


"Sudah..." suara Ibu Fatma terdengar menyahut dari dalam rumah. Bu Fatma berjalan keluar dari dalam rumah seraya tersenyum pada Amara dan Aga. "Eh, nak Aga sudah datang, ya." Ucap Ibu lembut.


Aga mengiyakannya kemudia menyaliki Bu Fatma. "Izin membawa Amara pergi dulu, ya, Bi." Pamit Aga.


"Iya. Sudah mau berangkat, ya?" Tanya Ibu.


Aga kembali menoleh pada Amara meminta jawaban.


"Iya, Bu. Mara dan Kak Aga sudah mau berangkat." Jawab Amara.


"Baiklah, Bu. Tidak masalah."


Setelah menjawab perkataan Ibu, Amara dan Aga pun berpamitan kembali dan beranjak masuk ke dalam mobil mewah milik Aga. Amara yang melihat Aga masuk ke dalam mobilnya setelah membantunya masuk ke dalam mobil dibuat tertegun melihat ketampanan Aga yang terlihat paripurna.


"Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan..." tanpa sadar Amara berucap dalam hati. Mengagumi wajah Aga yang selalu berhasil membuatnya terpesona jika melihatnya.


"Ehm." Aga berdehem saat menyadari pandangan Amara tak lepas dari wajahnya.


"Eh..." Amara gelagapan. Merasa malu karena ternyata Aga melihat dirinya terus memperhatikan wajah Aga.


"Apa sudah selesai mengagumi ketampananku, Amara?" Tanya Aga lembut seraya menahan senyum.


Semburat merah nampak muncul di kedua pipi Amara mendengar perkataan Aga. Ia menunduk. Merasa malu ketahuan diam-diam mengagumi ketampanan Aga.


"Dasar aku ini... kenapa tidak bisa bersikap biasa saja jika melihat pria tampan?" Amara merutuki sikapnya yang tak jauh beda dengan Zeline saat melihat pria tampan.


Melihat Amara yang hanya menunduk tanpa berniat menjawab perkataanya membuat Aga menahan senyum. Dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun mendekatkan tubuhnya pada Amara.


"Kak Aga mau apa?" Amara dibuat gugup karena posisi Aga semakin dekat kepadanya.


Aga tak memberi jawaban. Ia terus mendekatkan wajahnya pada Amara hingga membuat Amara refleks memejamkan kedua kelopak matanya.


"Kenapa kau menutup mata? Aku hanya ingin membantu memasang seat beltmu." Bisik Aga di telinga Amara.


Jleb


***


Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴