
Aga merasa haru mendengarnya. Tanpa sadar, kedua bola matanya pun berkaca-kaca. Tanpa suara, Aga menarik tubuh Amara ke dalam pelukannya. Keduanya pun akhirnya menangis bersamaan menyalurkan rasa bahagia dalam hati satu sama lain.
"Terima kasih, calon istriku..."
Suara tepuk tangan mulai terdengar dari orang-orang yang berada di sekitar mereka termasuk dari Daniel, Agatha dan Cakra.
"Ciew... ciew..." terdengar suara gadis kecil yang sangat tidak asing di telinga Amara.
Pelukan Amara dan Aga pun terlepas. Keduanya menatap ke arah belakang Amara dimana kini Zeline nampak berdiri di samping Naina dan Ziko sambil memegang kedua pipinya dengan telapak tangannya.
"Romantis sekali Anty tuh dan Om Aga. Ciew..." goda Zeline.
"Centil!" Kedua bola mata Amara membola melihat sang keponakan sudah berada di dekatnya. "Kenapa kau bisa ada di sini." Lanjutnya lalu menatap Naina yang sedang menahan senyum menatap ke arahnya.
"Zel kan mau antar Papah dan calon suami Anty pergi." Jawab Zeline masih dengan memasang wajah malu-malu. "Anty tuh inda-inda mau juga." Lanjutnya menggoda.
"Hey!" Kedua mata Amara terbelalak. Berani sekali keponakan centilnya itu menggodanya di situasi seperti saat ini hingga mengundang gelak tawa dari orang-orang di sekitarnya.
"Bagaimana Zel, rencana Anty Gatha berhasil kan? Anty berhasil menyatukan Om Zel dan Anty Zel!" Agatha tersenyum bangga.
Si centil Zeline menganggukkan kepalanya. "Berhasil Anty tuh. Seneng Zel!" Zel berlari ke arah Agatha dan memeluk kakinya.
Agatha mengusap sayang rambut keponakannya itu.
"Kakak..." Amara menunduk malu.
"Akhirnya kapalnya berlabuh juga, ya. Adik Kakak yang kecil ini sudah tak kecil lagi. Sudah mau jadi istri orang." Lanjut Naina.
"Tentu dong, Sayang. Masa adikmu selalu kecil." Daniel menimpali. Pria itu kini terlihat sudah berada di samping Naina sambil menggendong si kecil Ziko.
Naina memeluk pinggang suaminya. "Kenapa tidak dari kemarin saja menerima lamaran Kak Aga. Pakai drama mengurung diri di kamar dan malam hari mengigau nama Kak Aga lagi." Kelakar Naina.
"Kakak, apa yang Kakak katakan!" Amara terkejut tak percaya jika sang kakak berani menggodanya seperti itu. Rasa malunya pun semakin bertambah.
Aga mengulum senyum menyembunyikan senyuman smirk di sudut bibirnya mendengar perkataan Naina. Ia tak menyangka jika beberapa hari ini Amara terus memikirkan dirinya hingga membawa namanya ke dalam mimpi.
"Ternyata calon istri Kak Aga ini setia malam memikirkan Kak Aga terus, ya." Agatha ikut berkelakar hingga mengundang tawa dari orang di sekitarnya.
"Agatha..." Amara memicingkan kedua matanya pada Agatah. Setelah ini ia berjanji dalam hati akan membuat perhitungan pada Agatha yang sudah berhasil membuatnya menjadi malu.
Suara pemberitahuan keberangkatan pesawat Aga terdengar. Pandangan Aga pun lantas saja berlalih pada Amara. Walau dalam hati sangat berar pergi di saat hubungannya dan Amara semakin ada kemajuan, namun Aga tetap harus pergi untuk memperjuangkan kesejahteraan para karyawannya.
"Amara, aku harus pergi sebentar lagi. Aku berjanji aku tidak akan lama. Setelah urusanku di sana selesai, aku akan kembali dan melamarmu secara resmi di depan ibu dan ayah. Kau baik-baiklah di sini. Walau raga kita sebentar lagi akan berjauhan, namun percayalah bahwa hatiku selalu dekat denganmu. Dan doaku, akan selalu menyertaimu."
***