Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Suasana Mencekam


"Nona Sisil, Nona Ane." Marko memanggil dua orang wanita yang sudah menjadi tersangka itu untuk maju. Ia masih bersikap sopan memanggil keduanya walau ikut diliputi amarah saat ini.


Tubuh Sisil dan Ane semakin bergetar. Keduanya bahkan tak bergeming untuk maju walau tatapan orang-orang kini sudah tertuju kepada mereka.


"Jangan sampai saya memanggil untuk yang kedua kali." Marko memberikan peringatan.


Dengan tubuh gemetar dan keringat dingin muncul di dahu, Sisil dan Ane melangkah maju. Keduanya pun akhirnya tertunduk setelah berada di hadapan Daniel.


Wajah Daniel semakin tidak ramah menatap dua orang wanita yang sudah menghina istri dan adik iparnya. "Jadi kalian yang sudah menghina istri dan adik saya." Daniel berucap datar dan penuh penekanan.


"Maksudnya bagaimana, Tuan?" Sisil memberanikan diri untuk bertanya. Ia berniat mengelak agar bisa lepas dari jeratan Daniel.


"Maksud saya bagaimana? Apa saya perlu memutar ulang kejadian kemarin sore di depanmu agar kau dapat mengingat apa yang sudah ku lakukan kemarin pada adikku!" Sentak Daniel. Jika tidak mengingat ia tengah berada di perusahaan sepupunya, ia pasti sudah meledakkan amarahnya yang sudah di ubun-ubun.


Pandangan Daniel beralih pada Marko. Meminta asistennya itu untuk memutar video rekaman cctv yang sudah mereka dapatkan tadi malam dari Cakra.


Beberapa karyawan yang tidak mengetahui permasalahan kemarin sore berdesakan untuk maju seakan penasaran hal apa yang sudah membuat seorang Daniel menjadi marah besar seperti ini.


Marko memutar rekaman cctv dan tak lupa membesarkan suara. Melihat rekaman cctv yang diputar oleh Marko membuat Sisil dan Ane semakin bergetar hingga wajahnya yang putih nampak semakin pucat.


"Apa saya perlu mengingatkan kalian kembali dengan kejadian kemarin sore!" Sentak Daniel hingga membuat tubuh Ane dan Sisil terlonjak kaget.


"Tuan, maafkan kami, Tuan!" Ane dan Sisil mengatupkan kedua tangan. Tidak menyangka jika aksi mereka kemarin sampai di telinga Daniel dan membuat Daniel menjadi sangat murka.


Ane dan Sisil tak dapat berkata-kata. Lidah keduanya sudah terasa kelu. Mereka juga sangat takut dengan kemarahan Daniel saat ini.


Suasana di dalam lobby terasa tegang setelah mendengar suara Daniel yang terdengar menggelegar. Cakra yang baru keluar dari dalam lift pun mendekat pada Daniel setelah berhasil melewati kerumunan karyawan.


"Maaf, Tuan. Saya terlambat." Cakra nampak sungkan. Ia tak menyangka jika Daniel datang lebih awal dari waktu yang sudah ia janjikan.


Daniel tak memberikan tanggapan. Ia hanya menatap Cakra sekilas kemudian kembali menatap dua orang wanita di depannya.


"Ayo jawab, jangan diam saja! Dimana keberanian kalian kemarin saat menghina adikku? Menuduhnya yang bukan-bukan hingga membuat adikku jatuh sakit saat ini!"


Ane dan Sisil terkesiap. Tak menyangka jika hinaan mereka kemarin membuat Amara jadi jatuh sakit. Cakra yang mendengarkannya pun menatap wajah Ane dan Sisil dengan datar.


Di depan perusahaan, Aga yang baru saja tiba di perusahaannya dibuat bingung melihat suasana di dalam lobby nampak ramai. Kaki jenjangnya pun melangkah lebar masuk ke dalam lobby untuk melihat ada apa yang terjadi di dalam perusahaannya itu.


"Ada apa ini?" Suara Aga yang terdengar cukup keras mengalihkan perhatian orang-orang termasuk Daniel ke sumber suara.


Sedetik kemudian, Aga terkejut melihat adik sepupunya yang ternyata kini menjadi pusat perhatian karyawan di perusahaannya.


***


Mau lanjut? Yuk berikan vote dan giftnya dulu🥰 dan jangan lupa follow instagram @shy1210 ya❣️