
Hari-hari terus berlalu. Setelah malam itu Amara berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar membuka hati untuk Rendra dan tak mengharapkan Aga lagi, hubungan Amara dan Rendra pun berjalan dengan baik. Komunikasi keduanya terjalin dengan baik dan Amara mulai merasa nyaman dengan perhatian yang Rendra berikan kepadanya.
Dan untuk Aga, Amara mulai membiasakan diri menjaga jarak dari Aga. Dari mulai tidak lagi membuatkan kopi pada Aga setiap paginya dan berbicara seperlunya saja. Perubahan sikap yang Amara tunjukkan pada Aga lantas saja membuat Aga merasa jika Amara sedang menjaga jarak darinya.
Contohnya saja seperti pagi ini. Kedatangannya tidak disambut dengan wajah ceria seperti dulu oleh Amara. Pun saat ia sudah masuk ke dalam ruangan Amara tak lagi datang membawakan secangkir kopi untuknya.
Kedatangan Dodo ke dalam ruangan kerjanya membawakan secangkir kopi mengalihkan tatapan mata Aga kepadanya.
"Kenapa akhir-akhir ini anda yang membuatkan kopi untuk saya?" Tanya Aga.
"Nona Amara meminta saya saja yang membuatkan kopinya untuk anda, Tuan. Oh ya, apa kopi buatan saya tidak enak, Tuan?"
"Tidak begitu. Kopi buatanmu enak."
Dodo merasa lega mendengarnya. Sebuah pertanyaan pun mulai muncul di kepalanya karena Aga mempertanyakan tentang Amara yang tak lagi membuatkan kopi untuknya.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?"
"Tidak ada. Kau boleh keluar."
Dodo mengangguk mengiyakannya lalu melangkah meninggalkan ruangan Aga. Setelah berada di luar ruangan kerja Aga, Dodo lantas saja melangkah ke arah meja Amara dan menyampaikan pertanyaan Aga tadi kepadanya.
"Kenapa Tuan Aga bertanya seperti itu, apa ada masalah dengan kopi buatanmu?" Tanya Amara.
Dodo menggeleng sebagai jawaban. "Tuan Aga hanya bertanya saja tanpa protes dengan hasil buatan kopi saya, Nona."
Melihat Amara yang hanya bersikap acuh dengan informasi yang ia berikan, Dodo pun memilih pergi melanjutkan pekerjaannya.
"Kenapa Kak Aga bertanya seperti itu pada Dodo. Apa dia merindukan kopi buatanku?" Amara menebak. Dan sesaat kemudian kepalanya pun menggeleng mengusir segala praduga. "Itu tidak mungkin. Kak Aga tidak semanis itu merindukan kopi buatannu Amara."
*
Amara sedikitnya merasa bingung pada Anjani yang bagaikan setrika yang hampir setiap hari bolak-balik di perusahaan Aga. Entah apa maksud dan tujuan wanita itu terus saja datang ke perusahaan Aga. Padahal setahu Amara, Anjani tidak memiliki jadwal pertemuan dengan Aga. Jika pun ada tidak akan sampai setiap hari seperti akhir-akhir ini.
"Apa dia tidak memiliki pekerjaan lain di perusahaannya sehingga terus bermain ke sini?" Gumam Amara menatap sosok Anjani yang tengah menunggu Aga di depan pintu ruangan kerja Aga.
Tidak ingin ambil pusing dengan tujuan kedatangan Anjani saat ini, Amara pun memilih kembali fokus pada pekerjaannya. Amara bahkan tidak memperdulikan lagi kemana Anjani dan Aga akan pergi saat keduanya melewati meja kerjanya.
"Tahan sakitnya, Amara. Dengan berjalannya waktu kau tidak akan sakit lagi melihat Kak Aga berjalan dengannya." Gumam Amara setelah sosok Anjani dan Aga lenyap dari pandangannya.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya membuat Amara mengalihkan pandangan ke ponselnya yang terletak di atas meja.
"Rendra?" Gumam Amara membaca nama pengirim pesan. Amara lantas saja membuka pesan masuk dari Rendra dan akhirnya tersenyum membaca pesan berisi ajakan dari Rendra untuk nanti malam.
"Bermain ke pasar malam? Sepertinya seru juga." Gumam Amara.
***