Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Jangan Pergi


Pesan yang dikirimkan Agatha kepada Amara malam ini membuat Amara merasa tidak tenang. Sepanjang malam, Amara tak dapat memejamkan kedua kelopak matanya. Bayangan Aga yang akan pergi meninggalkannya menari-nari di dalam benaknya.


"Tidak... Kak mungkin gak mungkin pergi, kan?" Amara tergugu. Ia mendekap erat selimut yang membungkus tubuhnya.


Sesekali Amara melirik ke arah ponsel. Berharap ada notifikasi pesan balasan dari Agatha. Namun setelah menunggu hingga jam dua dini hari, Agatha tak kunjung membalas pesan darinya. Bahkan, pesan yang ia kirik pada Agatha tak kunjung menunjukkan tanda terkirim.


Cairan bening terus meleleh di sudut mata Amara. Ia merasa gelisah dan takut secara bersamaan. Bagaimana bila apa yang dikatakan Agatha itu benar adanya? Aga akan pergi meninggalkannya dan entah kapan akan kembali.


Amara jadi berpikir. Apakah ia sanggup berjauhan dari pria yang masih memenangkan hatinya sampai saat ini? Apa ia sanggup barang sehari saja tak melihat wajah Aga lagi?


Huuu


Terlalu larut dalam pemikirannya sendiri membuat Amara menangis tersedu-sedu. Ingin sekali Amara menghubungi Aga dan mempertanyakan kebenarannya. Namun, Amara merasa tak percaya diri. Ia takut mengganggu waktu istirahat Aga. Terlepas dari itu, Amara masih merasa tak enak hati pada Aga karena sudah menggantung perasaan Aga terlalu lama.


**


Semalaman Amara benar-benar dibuat tak dapat memejamkan kedua kelopak matanya. Di saat waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi, Amara baru bisa tertidur dengan membawa segala kegelisahan ke dalam alam bawah sadarnya.


Baru satu jam tertidur, Amara sudah terjaga kembali karena terganggu dengan bunyi alarm yang terdengar memekakkan telinga.


"Kak Aga!" Ucap Amara setelah mengingat kembali pesan dari Agatha.


Amara segera membuka ponsel. Melihat pesan tadi malam yang ia kirim pada Agatha. Pesan masih menunjukkan ceklis satu yang berarti belum terkirim pada Agatha.


Pada deringan ke tiga, akhirnya panggilan pun terhubung dengan Cakra. Tanpa basa-basi Amara langsung saja mempertanyakan jadwal keberangkatan Aga pagi ini. Dan betapa terkejutnya Amara saat mendengar jadwal keberangkatan Aga adalah pukul tujuh pagi dan saat ini Aga sudah bersiap-siap untuk pergi ke bandara.


"Tidak, Kak Aga tidak boleh pergi meninggalkan aku!" Amara segera turun dari atas ranjang. Melangkah ke arah kamar mandi untuk sekedar menggosok gigi dan membasuh muka. Saat ini juga, ia harus segera pergi ke bandara untuk menemui Aga sebelum semuanya terlambat.


Ibu Fatma yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dibuat terkejut melihat putrinya yang sudah nampak berpakaian rapi dan tergesa-gesa.


"Amara, kau ingin pergi kemana?" Tanya Ibu setelah melihat kunci mobil yang berada di tangan Amara.


"Mara ingin pergi ke bandara, Bu. Kak Aga mau pergi meninggalkan Amara!" Jawab Amara dengan kedua bola mata yang nampak sudah berkaca-kaca.


Ibu ingin menyahut. Namun Amara sudah lebih dulu meraih tangannya untuk menyaliminya.


"Mara berangkat dulu, Bu." Ucap Amara dan langsung bergegas keluar dari dalam rumah setelah mendapatkan anggukan kepala dari Ibu.


Masuk ke dalam mobil, Amara langsung saja menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya menuju bandara.


"Hiks, hiks, Kak Aga gak boleh pergi..." ucap Amara menangis sambil melajukan mobilnya.


***