Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Kak Aga?


Percakapan singkat Aga dan Anjani akhirnya membuahkan hasil. Anjani yang awalnya menggebu-gebu mendapatkan cinta Aga kini tersadarkan jika cintanya hanya akan bertepuk sebelah tangan. Terlepas dari pada itu, Anjani juga menyadari jika dirinya harus menyelesaikan urusan rumah tangganya lebih dulu yang belum jelas duduk perkaranya.


Malam itu Aga dan Anjani kembali ke hotel dengan perasaan tenang. Tidak ada lagi beban yang menumpuk di kepala Aga tentang Anjani dan Anjani sudah sadar dengan posisinya di hati Aga.


"Apa hatimu sudah lebih tenang saat ini?" Tanya Aga saat keduanya sudah berada di dalam lift yang akan mengantarkan keduanya menuju lantai kamar penginapan masing-masing.


"Sudah. Terima kasih karena sudah menyadarkan aku, Aga."


Aga tersenyum tipis. "Sama-sama. Jika kau perlu bantuan, aku akan mencoba untuk membantumu."


"Iya. Untuk saat ini aku akan mencoba menyelesaikannya sendiri. Mungkin satu minggu lagi aku akan kembali ke negara A untuk bertemu dengan suamiku."


"Baguslah kalau begitu. Aku harap permasalahan di antara kalian cepat terselesaikan dengan baik."


"Semoga saja." Anjani tersenyum menutupi rasa gundahnya. "Aku keluar dulu," pamit Anjani setelah pintu lift terbuka di lantai kamar penginapannnya.


Aga menganggukkan kepala sebagai jawaban. 


Pintu lift akhirnya tertutup dan melenyapkan sosok Anjani di pandangan Aga. "Anjani, kau adalah wanita yang baik. Jika suamimu benar menduakanmu maka dia adalah pria yang merugi karena sudah melukai hati istri sebaik dirimu." Gumam Aga. 


Anjani tak langsung melangkah pergi menuju kamarnya berada. Ia memilih menatap pintu lift yang sudah tertutup dengan kedua bola mata berkaca-kaca. "Mungkin aku dan Aga memang tidak berjodoh. Buktinya selalu saja ada jalan yang membuat kami tidak bisa bersama dan saling menyatukan hati." Lirih Anjani. Setelah puas menatap pintu lift yang sudah tertutup rapat, Anjani pun membalikkan tubuh dan melangkahkan kaki menuju kamar penginapannya berada.


*


Malam sudah semakin larut. Hembusan angin malam pun bertiup semakin kencang menerpa wajah cantik Amara yang masih setia duduk di kamar hotel pengingapannya. Amara tak merasa kedinginan sedikit pun. Wanita itu masih setia memegang ponsel di tangannya sambil melihat video di aplikasi berlogo hitam.


"Kau belum tidur?" Suara teriakan yang berasal dari sebelah balkon kamarnya mengejutkan Amara hingga hampir saja melepaskan ponsel yang sedang ia pegang ke atas lantai.


"Belum tidur?" Suara Aga kini terdengar lembut diikuti senyuman tipis di wajahnya. 


Amara tertegun bukan main melihat sosok Aga yang ternyata tengah berdiri di depan balkon sambil menatap ke arahnya.


"Be-belum. Kak Aga sedang apa di situ?" Amara bertanya sedikit keras agar suaranya sampai di telinga Aga.


"Sedang menunggumu untuk tidur. Sejak tadi aku mendengar kau terus memainkan ponselmu." 


"Apa?" Amara terperangah. Bagaimana bisa Aga mendengar suara dari ponselnya. Apa volume suara ponselnya terdengar sangat keras hingga sampai ke telinga Aga?


"Tidurlah. Besok pagi kita masih ada pekerjaan. Jangan sampai kau terlambat bangun atau kau akan mendapatkan hukuman dariku."


Amara hendak menjawab. Namun niat itu ia urungkan saat sosok Aga sudah pergi meninggalkan balkon sehingga dirinya tak dapat lagi melihat sosok Aga.


"Dia benar Kak Aga? Kenapa dia terlihat bisa tersenyum dan berbicara lembut kepadaku?" Gumam Amara heran.


Suara notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya mengalihkan pandangan Amara dari balkon kamar Aga ke arah ponselnya.


"Yang kau lihat tadi benar adalah aku. Sekaranga ayo tidur sebelum kau mendapatkan hukuman dariku." Sebuah pesan masuk dari Aga membuat Amara terkesiap dengan rasa tak percaya. 


"Kak Aga?" Lirih Amara.


***