
Kedua pipi Amara terasa panas setelah mendengar pernyataan Aga. Semburat merah pun kini sudah menghiasi kedua pipinya. Amara menyembunyikan wajah di balik punggung Aga seakan takut jika Aga melihat rona merah di kedua pipinya.
"Kenapa diam saja, hem?" Aga sedikit menoleh ke arah belakang agar dapat melihat wajah Amara.
"Aku tak apa." Cicitnya dengan kepala menunduk.
Aga mengulum senyum. Menyembunyikan seringaian yang hampir terbit di wajahnya.
"Apa kau tidak mau memberi tanggapan atas pernyataanku tadi?" Tanyanya kemudian.
Amara menggeleng. "Tidak. Aku rasa itu adalah masa lalu yang tidak perlu dibahas."
Jawaban yang Amara berikan berhasil membuang Aga jadi bungkam. Aga memilih tak lagi menjawab perkataan Amara dan fokus pada kemudinya.
"Sepertinya rasa cinta Amara memang sudah terkikis untukku." Aga bergumam dalam hati.
**
"Anty, Om Aga!" Suara Zeline terdengar menggelegar melihat kepulangan Aga dan Amara sore itu.
Kedua sudut Amara tertarik sempurna melihat keponakan centilnya yang kini melompat-lompat kegirangan karena melihat kepulangannya.
"Ini hadiah untuk Zel dan adik Ziko." Amara menyerahkan sebuah plastik berisi jajanan untuk Zeline yang tadi ia beli di mall.
Zeline menatap kantung plastik yang diberikan Amara dengan kedua mata berbinar. "Asik... banyak gini jajan untuk Zel!" Serunya girang.
"Hey, ingat untuk adik Ziko juga!" Pesan Amara.
"Iya, Anty tuh."
Amara mengusap gemas kepala keponakannya. Aga yang melihatnya pun hanya tersenyum saja.
"Oh ya, kau ingin kemana, kenapa sudah cantik begini?" Tanya Amara melihat penampilan Zel sudah seperti ingin bepergian.
"Zel cantik terus tiap hari, Anty." Koreksi Zeline.
"Zel, Mamah, Papah dan adik Ziko mau main ke taman, Anty."
"Oh..." Amara mengangguk paham. "Lalu dimana Mama, Papa dan adikmu? Kenapa mereka gak terlihat?"
"Mamah, Papah dan adik masih di dalam Anty. Adik Ziko banyak gaya tuh. Gak mau pake baju!" Adu Zeline dengan bibir mengerucut.
Amara tertawa kecil mendengarnya. Merasa tak sabar ingin melihat ponakan bungsunya, Amara pun segera mengajak Aga masuk ke dalam rumah. Baru saja Amara masuk ke dalam rumah, Daniel sudah nampak ingin keluar sambil menggendong Ziko.
"Kalian sudah pulang?" Daniel menatap Aga dan Amara secara bergantian.
"Sudah. Ini kunci motornya." Aga menyerahkan kunci setelah Daniel menurunkan Ziko dari gendongannya.
Daniel menerima kunci tersebut kemudian memberi kode pada Aga untuk mengikutinya keluar rumah.
"Anty..." si kecil Ziko lantas saja merentangkan kedua tangannya pada Amara karena Daniel ingin keluar bersama dengan Aga.
"Kau sudah semakin besar. Anty gak kuat menggendongmu, ganteng." Jawab Amara.
Bibir Ziko mengerucut. Merasa sebal karena hanya Daniel yang masih sanggup menggendong tubuhnya.
Zeline pun tertawa melihat adiknya yang nampak sebal itu. "Makanya, adik Ziko tuh jangan cepat besar. Jadinya kan nda ada yang mau gendong." Ejeknya.
Kedua bola mata Ziko mulai tergenang. Melihat itu membuat Amara memberanikan diri menggendong Ziko agar keponakannya itu tidak menangis.
"Zeline, jangan menggoda adikmu lagi." Perintah Amara pada Zeline. Jika Ziko sudah merajuk seperti ini ia pasti akan kesusahan untuk membujuknya.
Zeline hanya tersenyum memperlihatkan deretan gigi kecilnya yang tersusun sedikit rapi. "Maaf Anty tuh." Ucapnya lalu berlari meninggalkan Amara.
Amara hanya bisa menghela napas kemudian membawa Ziko ke kamar Naina.
***