
"Bolehkah aku meminta sesuatu kepada Kakak. Aku tahu permintaanku ini mungiij akan sulit untuk Kakak terima. Tapi bagaimana pun juga, aku berharap Kakak bisa mempertimbangkannya."
Dahi Aga mengkerut halus mendengar perkatan Amara yang belum dapat diterima oleh akal sehatnya akan ditujukan kemana.
Aga menurunkan tangannya dari pipi Amara dan menatap wajah Amara intens. "Memangnya kau mau meminta apa? Jika permintaanmu tidak sulit, aku akan berusaha mengabulkannya."
Amara menghela napas sebelum menjawab. "Kak Aga, bisakah Kakak mengembalikan pekerjaan Sisil dan Ane seperti semula?" Tanya Amara.
Wajah Aga menunjukkan ekspresi terkejut setelah mendengar permintaan Amara. "Kenapa kau meminta demikian? Sudah kembali dipekerjakan di perusahaan ini saja mereka harusnya sudah bersyukur." Ucap Aga.
Amara menatap wajah Aga dengan sendu. "Karena menurutku hukuman untuk mereka sudah cukup membuat mereka menjadi berubah jadi manusia yang lebih baik, Kak. Terlepas dari pada itu, mereka membutuhkan pekerjaan yang lebih layak untuk kebutuhan mereka saat ini. Terlebih untuk Sisil, dia membutuhkan uang yang banyak untuk biaya operasi ibunya yang tidak sedikit."
Aga menggelengkan kepalanya setelah mendengar perkataan Amara. Walau turut merasa iba dengan kondisi orang tua salah satu karyawannya, namun tetap saja Aga tidak akan merubah keputusannya itu.
"Maaf, Amara. Untuk yang satu itu aku tidak bisa mengabulkannya. Mereka masih harus tetap menjalani hukuman sesuai peraturan yang sudah berlaku." Ucap Aga tegas.
Amara menghela napas dalam-dalam. Akhirnya apa yang ia pikirkan sejak tadi terjadi juga. Aga tidak ingin merubah keputusannya untuk mengembalikan pekerjaan Sisil dan Ane seperti dulu dalam waktu dekat.
"Baiklah, aku menghargai keputusan Kakak saat ini. Tapi... bisakah aku meminta tolong satu hal sebagai rasa kemanusiaan pada Kakak?" Tanya Amara dengan wajah memohon.
"Apa itu?" Tanya Aga. Ia sudah mulai merasa awas dengan permintaan calon istrinya itu.
"Tolong untuk menyumbangkan dana untuk membantu biaya operasi Ibu Sisil, Kak. Hanya dengan dioperasi ibunya bisa sembuh. Kasihan dia, tidak punya keluarga lagi selain ibunya."
Melihat diamnya Aga membuat Amara ikut diam. Ia menghargai keputusan Aga yang tak ingin langsung memberikan jawaban atas permintaannya.
"Baiklah. Untuk yang satu itu aku akan membantu. Tapi dengan satu syarat." Ucap Aga.
Wajah Amara seketika merekah setelah mendengar perkataan Aga. "Syarat apa itu, Kak?" Tanyanya tak sabar.
"Setelah ini aku harap kau tidak lagi memikirkan orang lain. Fokuslah pada dirimu sendiri karena kau butuh waktu untuk dirimu sendiri sebelum menyambut hari pernikahan kita." Pinta Aga lembut. Ia tak ingin calon istrinya terlalu memikirkan orang lain sehingga melupakan jika dirinya juga butuh waktu untuk memikirkan hidupnya sendiri.
Amara mengangguk mengiyakan perkataan Aga. Ia mengerti dengan maksud perkataan Aga. Masih banyak hal yang harus ia pikirkan untuk pernikahannya dan Aga. Dan jangan sampai karena terlalu memikirkan orang lain, ia lupa pada kepentingam dirinya sendiri.
"Baiklah, Kak. Mara berjanji untuk itu."
Aga menarik kedua sudut bibirnya sambil memberikan usapan lembut di pipi Amara. Kemudian ia memberanikan diri memberikan ciuman di kening Amara juga tanda ucapan terima kasih.
Mendapatkan ciuman di kening oleh Aga tentu saja membuat Amara jadi salah tingkah hingga kedua pipinya jadi merona.
"Cuma di kening saja, Kak? Yang lainnya tidak?" Tanyanya malu-malu.
***