Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Kapan Giliranmu?


Daniel terbatuk-batuk mendengar aduan putri kecilnya itu. Sementara Naina sudah menahan rasa malu sebab rahasia mereka dibongkar oleh Zeline di depan keluarganya.


"Emh..." Amara menatap wajah Naina dan Daniel secara bergantian kemudian kembali menatap pada Zeline.


"Anty kemarin juga bilang kalau mau punya adik gak boleh tidur sama Mamah dan Papah. Dan sekarang, Anty mau punya adik juga jadi Zel pasti dilarang tidur sama Anty."


Amara dibuat bingung harus menjawab apa. Terlebih kini Zeline semakin menangis dengan keras.


"Cengeng Kak Zel, Mah." Ucap si kecil Ziko pada sang Mama.


Naina menahan senyum kemudian mengusap kepala Ziko.


Zeline yang mendengarkan ejekan adiknya pun menatap wajah Ziko dengan bibir mengerucut.


"Zeline... dengarkan Anty." Amara berucap lembut hingga membuat pandangan Zeline kembali terarah kepadanya.


"Apa yang harus Zel dengar Anty?" Tanyanya tersendat-sendat.


"Walau pun Anty sudah menikah nanti, Zel masih boleh kok tidur sama Anty. Tapi di saat Om Aga tidak ada. Kalau Om Aga ada bersama Anty, Zel tidurnya di kamar Mamah dan Papah saja, ya."


"Tuh kan..." bibir mungil Zeline semakin mengerucut mendengarnya. Jelas saja apa yang ia katakan tadi terbukti jika dirinya akan sulit untuk tidur bareng Amara jika Amara sudah menikah nanti.


"Centil... kau ini bagaimana sih. Katanya mau punya adik kecil dari Anty Mara dan Om Aga. Kalau mau punya adik kecil lagi, kau tidak boleh tidur sama mereka dong." Sahut Agatha yang baru saja kembali dari dapur.


Pandangan Zeline beralih pada Agatha yang kini datang membawakan susu dingin untuknya.


"Katanya mau Anty Mara bahagia bersama Om Aga kan? Nah, kalau memang maunya begitu maka Zel gak boleh nangis-nangis seperti ini." Lanjut Agatha.


Agatha mengembangkan senyum. "Iya. Kalau Zel mau, Zel bisa tidur bareng Anty Gatha. Kebetulan saat ini Anty masih jomlo dan masih bisa tidur sama Zel." Kelakarnya.


Zeline jadi tertawa kecil mendengarnya. "Kasihan juga Anty tuh ndak punya Oom."


"Hey..." kedua bola mata Agatha melotot mendengar ejekan Zeline untuknya.


Sementara Daniel sudah tertawa-tawa mendengar ejekan Zeline pada Agatha.


"Makanya Gatha, segeralah mencari pasangan untuk menyusul Amara." Ucap Daniel disela tawanya.


Agatha mengerucutkan bibir. "Gitu terus, ejek aja terus adiknya yang jomlo ini." Gerutunya.


Daniel semakin meledakkan tawa. "Lagi pula kau ini sama saja seperti Amara, sejak sekolah sampai sekarang sudah bekerja Kakak tidak pernah melihat kau dekat dengan seorang pria. Kau hanya dekat dengan Amara dan Rendra saja."


"Itu kan sepenglihatan Kakak saja. Di belakang Kakak, Gatha dekat dengan pria kok." Dustanya.


"Pria yang mana? Perasaan Kakak selalu memantaumu tapi tidak ada satu orang pria pun yang dekat denganmu selain Rendra." Sahut Aga.


Agatha jadi gelagapan mendengar sang kakak menimpali perkataannya. Jujur saja, sejak ia remaja hingga dewasa seperti saat ini, Agatha memang sangat jarang dekat dengan seorang pria. Entah mengapa ia merasa lebih senang dengan kesendiriannya saja dari pada harus merasakan cinta yang hanya akan berakhir dengan luka.


"Biarkan saja. Gatha ini kan jomlo terhormat." Ucapnya membanggakan dirinya yang dicap sebagai jomlo akut.


***