Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Penyakit Musiman


Amara kini telah duduk di kursi kerjanya. Sejak mengetahui profesi Sisil dan Ane saat ini yang berubah menjadi cleaning service membuatnya merasa tidak tenang dan sedikit merasa bersalah. Terlebih beberapa menit yang lalu ia mengetahui fakta baru jika Ane bekerja di lantai khusus petinggi perusahaan yang berarti bekerja satu lantai dengannya.


Kehadiran Aga di depan meja kerjanya tak langsung membuat Amara menyadarinya sebab terlalu larut dalam lamunannya.


"Amara, hei..." Aga menepuk lembut pundak Amara hingga membuat Amara tersadar dari lamunannya.


"Kak Aga." Amara mengembangkan senyum menatap wajah Aga yang kini cukup dekat dengannya.


"Pagi-pagi sudah melamun saja," Aga menarik tipis kedua sudut bibirnya.


Amara jadi tak enak hati ketahuan melamun oleh Aga yang masih berstatus sebagai bosnya di perusahaan. "Maafkan Mara, Kak."


"Aku tidak marah kok." Aga menangkan sang calon istri yang tengah merasa tak enak hati.


Amara tersenyum kaku. "Ada apa Kakak ke sini? Dan sejak kapan Kakak sampai?" Tanyanya sebab tak melihat Aga berlalu di hadapannya sejak awal ia duduk di kursi kerjanya.


"Tidak lama. Aku hanya ingin bertanya hal apa yang membuat calon istriku ini melamun di waktu pagi seperti ini." Jawabnya kemudian menjatuhkan bokong di atas kursi agar lebih nyaman berbicara dengan Amara.


Mendengar pertanyaan Aga lantas saja membuat Amara merasa mendapatkan kesempatan untuk meminta belas kasih Aga untuk Sisil dan Ane.


"Aku memikirkan Sisil dan Ane, Kak. Kenapa mereka Kakak tempatkan sebagai cleaning service di perusahaan ini sedangkan jabatan mereka sebelumnya jauh dari profesi mereka saat ini."


Aga menghela napas sebelum menjawab. Ternyata dugaannya benar jika Amara masih saja memikirkan nasib kedua wanita yang sudah menghinanya.


"Memangnya kenapa? Aku tidak memaksa mereka untuk kembali bekerja namun dengan menempatkan profesi saat ini." Jawab Aga seadanya.


"Tapi, Kak, apa ini cukup adil untuk mereka. Maksudku kasihan mereka harus bekerja seperti itu."


"Itu sudah cukup untuk mereka, Amara. Setelah apa yang mereka lalukan kepadamu, aku sudah berbaik hati untuk mempekerjakan mereka kembali."


"Anggap saja ini adalah ujian yang harus mereka lewati sebelum mereka kembali ke posisi semula. Jika mereka berhasil melewati ujian ini, aku akan kembali menempatkan mereka ke profesi mereka sebelumnya."


Senyuman terkembang di wajah cantik Amara. Ternyata calon suaminya itu memiliki tujuan untuk itu.


"Amara, bekerja di sini bukan hanya dituntut untuk bisa menguasai pekerjaan mereka saja. Namun mereka juga dituntut untuk memiliki akhlak mulia."


Amara mengangguk paham. Ia masih ingat dengan surat perjanjian kontrak kerja di perusahaan Aga yang mengharuskan karyawannya memiliki akhlak yang baik selama bekerja.


"Baiklah, Kak. Mara mengerti dan Mara menghargai keputusan Kakak ini."


Aga menarik sebelah sudut bibir kemudin mengusap kepala Amara dengan sayang tanpa peduli jika mereka sedang berada di perusahaan saat ini.


Uhuk


Uhuk


Cakra yang baru saja keluar dari dalam ruangan kerjanya terbatuk-batuk melihat aksi bos dan sekretarisnya yang sedang bermesra-mesraan saat ini.


Mendengar suara batuk Cakra, membuat Amara mengalihkan pandangan pada Cakra yang nampak menatapnya dengan senyuman menyebalkan.


"Tuan Cakra kenapa? Batuk, pilek?" Tanya Amara dengan mata memicing.


"Iya, saya punya penyakit musiman suka batuk-batuk kalau lihat orang romantis di depan saya, Nona." Jawabnya dengan senyuman yang nampak semakin menyebalkan di mata Amara yang melihatnya.


***


Komen, like, vote dan gift dulu yuk sebelum lanjutšŸ¤—