Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Untuk Kedua Kalinya


"Aku menangis karena bahagia, Kak.." jawab Amara.


Aga tersenyum mendengarnya. "Baiklah, aku mengizinkanmu untuk menangis jika alasannya karena kau bahagia bersamaku.


Amara ikut tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


Setelah cukup melepas rindu satu sama lain, Amara dan Aga pun akhirnya memilih duduk di sebuah sofa yang berada di ruangan tengah rumah. Keduanya saling bercerita kegiatan apa saja yang mereka lakukan setelah hampir dua minggu berjauhan. Walau sudah sering bercerita lewat telefon setiap harinya, namun Aga dan Amara seakan tidak bosan untuk menceritakannya kembali.


Naina yang baru saja turun dari kamarnya tersenyum melihat kedekatan Aga dan adik kandungnya. Tanpa berniat mengganggu pembicaraan mereka, Naina melangkah begitu saja ke arah dapur berniat melanjutkan kegiatannya tadi yang ingin memasak makanan untuk makan siang.


**


Niat baik Aga yang ingin datang ke rumah kedua orang tua Amara untuk melamar Amara menjadi istrinya akhirnya sampai di telinga Ayah Arif dan Ibu Fatma. Niat baik Aga pun lantas saja diterima dengan baik oleh keduanya yang memang sudah merestui hubungan Aga dan Amara.


Aga tentu saja merasa senang mendengarnya. Jalannya yang ingin mempersunting Amara terasa dilancarkan dan dimudahkan.


Setelah satu minggu kembali ke tanah air, akhirnya Aga dan keluarga besarnya sudah menetapkan waktu untuk datang ke kediaman Amara untuk melamar Amara menjadi istri Aga.


**


Suasana di kediaman Amara siang itu nampak sudah ramai dengan kedatangan keluarga besar Ayah Arif dan Ibu Fatma serta para tetangga komplek yang turut diundang di acara lamaran Amara dan Aga.


Dan pada hari itu, Naina dan Daniel terpaksa berpisah. Naina dan putri kecilnya berada di kediaman kedua orang tuanya, sementara Daniel dan putra kecilnya akan datang ke rumah mertuanya bersama rombongan keluarga besarnya.


"Anty Mara cantik gini ya, Mah." Ucap Zeline menatap wajah Amara yang baru saja selesai dirias oleh seorang MUA yang cukup terkenal di kotanya.


"Memangnya sebelumnya Anty tidak cantik?" Sahut Amara pada Zeline.


Zeline menggelengkan kepala. "Tidak. Masih cantikan Zel." Jawabnya percaya diri.


Amara jadi melototkan kedua matanya karena keponakannya itu sangat narsis mengatakan dirinya lebih cantik dari pada dirinya.


"Iya kan Mamah. Zel jauh lebih cantik dari pada Anty." Ucap Zeline pada Naina meminta dukungan.


Naina tersenyum saja. Melihat senyuman ibunya pun membuat Zeline jadi semakin besar kepala karena mendapatkan dukungan.


Amara menghela napas kemudian mengangguk saja mengiyakan perkataan keponakan centilnya.


"Kak Nai, apa dulu Kak Nai merasa gugup saat Kak Aga ingin datang ke sini melamar Kak Nai?" Tanya Amara pada Naina mengingat mereka sudah merasakan hal yang sama yaitu sama-sama ingin dilamar oleh pria yang sama.


Mendengar pertanyaan Amara pun membuat Naina jadi keget sekaligus heran mendengarnya. Bagaimana tidak, bisa-bisanya Amara bertanya tentang perasaannya saat akan dilamar Aga dulu sementara saat ini Amara juga akan dilamar oleh pria yang sama.


"Kenapa kau bertanya seperti itu. Apa saat ini kau merasa gugup karena kau akan dilamar oleh pria yang mencintaimu dan juga kau cintai?" Tanya Naina balik tanpa berniat menjawab pertanyaan Amara.


Amara menganggukkan kepalanya. "Gugup juga ingin tertawa juga karena untuk yang kedua kalinya Kak Aga mau datang ke rumah untuk melamar wanita yang berbeda." Jawabnya kemudian tersenyum lebar.


***