
Dara melangkahkan kaki mendekati Cakra hingga kini ia berada tepat di hadapan Cakra. "Kau sedang apa di sini?" Tanya Dara dengan dahi yang nampak mengkerut.
Cakra mencoba tetap tenang walau dalam hati merasa bingung harus menjawab apa. "Saya ingin mengunjungi orang tua dari teman saya yang sedang dirawat di rumah sakit ini, Nona. Oh ya, Nona sendiri sedang apa di sini?" Tanya Cakra.
"Aku? Tentu saja aku sedang bekerja di sini." Jawab Dara kemudian menggelengkan kepalanya karena menurutnya pertanyaan Cakra tidak logis sekali.
"Oh ya, saya lupa kalau Nona juga bekerja di rumah sakit ini." Ucap Cakra.
"Sejak kapan kau menjadi pria yang suka amnesia, Cakra? Bukannya dari dulu kau sudah tahu kalau aku bekerja di sini?" Dara kembali menggeleng merasa tak habis pikir dengan jawaban Cakra.
Kali ini Cakra memilih diam. Sebab, semakin banyak ia menjawab, maka kemungkinan besar akan salah bicara.
"Oh ya, kau bilang jika kau ingin mengunjungi orang tua temanmu yang sedang sakit. Memangnya temanmu yang mana?" Tanya Dara merasa penasaran. Karena sepengetahuan dirinya, Cakra bukanlah pria yang memiliki banyak teman di kota ini.
Cakra kembali dibuat bingung harus menjawab apa. Hingga akhirnya kedatangan seorang wanita yang berprofesi sebagai rekan kerja Dara mengajak Dara untuk pergi memeriksa pasien menyelamatkan dirinya.
Huft
Cakra menghembuskan napas bebas di udara setelah kepergian Dara. Kemudian ia menatap ke sekitarnya mencari keberadaan Sisil yang jelas saja sudah pergi meninggalkan dirinya.
"Lebih baik aku pulang saja. Bahaya kalau lama-lama di sini." Gumam Cakra tak ingin mengambil resiko jika masih ingin melanjutkan niatnya untuk menguntit.
**
**
Daniel dan Naina yang menjadi pendengar pun saling pandang sebelum akhirnya Daniel berdehem untuk memecahkan ketegangan di antara sepupu dan adik iparnya itu.
"Pokoknya Mara gak mau acara yang terlalu mewah, Kak. Mara mau sederhana saja seperti acara nikahan Kak Naina dulu." Ucap Amara pelan.
"Memangnya kenapa kalau Kak Aga mau melangsungkan resepsi yang lebih mewah dari pernikahan Kakak dan Kak Nai dulu, Amara? Kakak rasa tidak ada yang salah." Sahut Daniel membantu Aga yang nampak mulai pusing menghadapi Amara yang keras kepala.
"Karna Mara maunya acara yang sederhana saja, Kak. Mara gak mau Kak Aga menghabiskan uang hanya untuk sebuah resepsi pernikahan. Lebih baik uangnya ditabung untuk kehidupan setelah menikah nanti." Jawabnya seadanya.
Mendengar jawaban dari adiknya lantas saja membuat Naina tersenyum. "Amara, Kakak mengerti dengan apa yang kau pikirkan saat ini. Kau pasti tidak ingin merepotkan calon suamimu dengan mengeluarkan uang yang banyak untuk acara resepsi pernikahan kalian bukan?" Tanya Naina lembut.
Amara menganggukkan kepalanya pelan. "Mara maunya yang sederhana saja, Kak. Seperti Kakak dulu." Jawabnya mengungkapkan isi hatinya kembali.
"Tapi walau pun begitu, kau tidak boleh egois dengan keinginanmu sendiri, Amara. Kau harus menghargai keinginan Kak Aga juga yang ingin memberikan hal terbaik untukmu di hari pernikahan kalian. Lagi pula, kondisi Kakak menikah dulu denganmu saat ini jauh berbeda. Kakak menikah di saat Zel sudah ada di kehidupan Kakak dan Kak Daniel. Jadi menurut Kakak saat itu, tidak perlu lagi ada pernikahan yang mewah sebab sudah ada anak di antara kami."
***