Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Siapa Wanita Itu?


"Saya tidak bisa membantah perintah Tuan Aga, Amara." Jawaban yang Cakra berikan dapat menjelaskan secara tidak langsung hal apa yang menyetujuinya untuk lembur bersama Aga malam ini.


Amara mengangguk paham dan tak lagi banyak tanya. Kemudian, ia berpamitan pada Cakra untuk pulang lebih dulu.


"Apa aku harus berpamitan pulang dengan Kak Aga juga?" Gumam Amara. Merasa sedikit bimbang, akhirnya Amara memilih untuk langsung pulang saja. Lagi pula ia sudah mendapatkan pesan dari Aga yang menyuruhnya untuk pulang.


**


Setelah melewati perjalanan lebih kurang empat puluh menit, akhirnya mobil milik Amara sampai di depan rumahnya. Dari dalam mobil, Amara menatap pintu rumahnya yang nampak tertutup rapat. Sepertinya ibu dan ayahnya belum pulang dari toko saat ini.


Amara segera keluar dari dalam mobil dan melangkah menuju pintu rumah. Sejenak, Amara mengurungkan niat untuk membuka kunci rumah. Ia memilih menjatuhkan bokong di atas kursi teras lebih dulu dan melihat isi pesan di dalam ponselnya.


"Kenapa Rendra jarang menghubungiku beberapa hari ini ya? Rendra juga belum pernah mengajakku keluar lagi setelah pulang dari kota B." Amara berpikir seraya menebak-nebak hal apa yang membuat Rendra sedikit berubah akhir-akhir ini.


Tak ingin berpikir buruk sendiri, Amara memilih mengirimkan sebuah pesan pada Rendra.


"Ceklis satu. WAnya tidak aktif." Gumam Amara lalu menghembuskan napas bebas di udara. Merasa sudah tidak ada gunanya lagi ia duduk di kursi teras karena tujuannya sudah tercapai, Amara segera bangkit dari atas kursi lalu membuka pintu rumah.


Tin


Tin


Suara klakson motor milik sang ayah mengurungkan niat Amara untuk masuk ke dalam rumah. Amara memutar kepala ke arah belakang. Senyuman terukir di wajah cantiknya melihat sang ayah dan sang ibu sudah pulang dari toko.


"Ayah, Ibu." Amara menghampiri Bu Fatma dan Ayah Arif yang baru turun dari atas motor.


"Mara," Bu Fatma mengusap kepala putrinya dengan sayang. "Baru pulang, Nak?"


Ibu kembali tersenyum lalu mengajak Amara untuk masuk ke dalam rumah.


"Oh ya, Mara. Tadi Nak Rendra berbelanja di toko kita, loh." Beri tahu Ibu setelah duduk di atas sofa.


Amara yang masih berdiri di dekat sofa menatap Ibu Fatma penuh tanya. "Rendra belanja di toko kita, Bu? Belanja apa, Bu?" Tanya Amara penasaran.


"Bahan-bahan bangunan dan beberapa bola lampu. Tadi Nak Rendra datang bersama seorang perempuan muda tapi Ibu kurang mengenali wajahnya."


"Bersama seorang wanita?" Lirih Amara kemudian mengingat-ingat siapa saja teman wanita Rendra.


"Tidak mungkin adik perempuannya, kan? Rendra bilang adik perempuannya masih berada di luar negeri kemarin." Ucap Amara dalam hati.


Amara kembali memikirkan sesuatu. Kenapa Rendra membeli bahan bangunan pada Ibu dan Ayahnya mengingat rumah Rendra cukup jauh dari toko bangunan milik ayahnya.


"Amara, kenapa diam saja?" Ibu melontarkan pertanyaan setelah Amara hening beberapa saat.


"Tidak apa-apa, Bu." Amara mengembangkan senyum. "Kalau begitu Mara pamit ke kamar dulu ya, Bu. Mau mandi dan istirahat."


Ibu mengangguk mengiyakannya.


Amara segera mengayunkan kaki menuju pintu kamarnya berada. Beberapa pertanyaan kini mulai bersarang di benaknya tentang Rendra.


"Siapa wanita yang Ibu maksud ya? Tumben sekali Rendra mau pergi bersama seorang wanita yang tidak dekat dengannya."


***