Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Semakin Aneh


Suara alarm yang terdengar memekakkan telinga membangunkan Amara dari tidur lelapnya. Amara menguap diikuti kedua kelopak mata yang terbuka malas akibat mata yang masih mengantuk. Ia menggeliat pelan lalu mengambil ponselnya yang semalam ia letakkan di atas nakas.


"Sudah jam setengah lima pagi," ucap Amara parau melihat jam yang tertera di layar alarm. Setelah mematikan alarm, Amara segera bangkit dari pembaringan dengan malas. Mengucek kedua mata berharap menghilangkan rasa kantuk yang masih mendera.


"Huh, rasanya malas sekali bekerja hari ini," gumam Amara sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ia ingat jika pagi ini ada kunjungan ke proyek pembangunan perumahan di lokasi yang cukup jauh dari tempat penginapan. Maka dari itu, Aga sudah mengatur jadwal agar mereka berangkat lebih pagi dari hari kemarin.


Tak ingin kalah dengan rasa malas, Amara segera melangkah ke kamar mandi. Berniat mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar terasa lebih segar dan menghilangkan rasa kantuk.


Hampir setengah jam berada di dalam kamar mandi, Amara nampak keluar dengan hanya menggunakan selembar handuk melilit sebagian tubuhnya. Suara deringan ponsel yang terdengar cukup kerasa mengalihkan pandangan Amara ke sumber suara.


"Siapa yang menelefon pagi-pagi begini?" Gumam Amara diikuti kerutan di dahi. Dengan langkah lebar dan terburu-buru Amara menuju ranjang untuk mengangkat panggilan telefon.


"Kak Aga?" Gumam Amara sebelum menggeser ikon bewarna hijau di layar ponselnya. Menyadari jika ponselnya terus berbunyi tanda sang penelefon sudah menunggu jawaban darinya, Amara segera menggeser ikon bewarna hijau lalu meletakkan ponsel ke daun telinga.


"Halo, Kak Aga?" Suara Amara terdengar menyapa lebih dulu.


Aga di sebelah kamar menyahut. Ia terdengar mempertanyakan apakah Amara sudah bangun atau belum. Mendengar pertanyaan Aga lantas saja membuat Amara jadi heran. Tidak biasanya sekali Aga bertanya demikian kepadanya.


"Aku sudah bangun, Kak, bahkan sudah mandi." Beri tahu Amara.


Aga berohria di sebelah kamar lalu panggilan telefon pun terputus setelah Amara memberikan pesan pada Amara agar tidak terlambat turun ke bawah.


"Perasaan dulu Kak Aga tidak seperti ini. Dia juga pasti tahu aku bisa bangun sendiri tanpa perlu dibangunkan." Amara menggeleng pelan merasa bingung dengan sikap Aga yang terkesan aneh.


*


Waktu baru menunjukkan pukul enam pagi saat Amara sudah duduk di resto untuk menikmati sarapan pagi. Karena pagi ini perutnya terasa tidak begitu lapar, Amara memilih sarapan menggunakan sebuah roti dan kopi saja. Sementara Aga yang baru saja datang memilih mengambil nasi goreng dan telur mata sapi sebagai toping.


"Kak Anjani dimana?" Tanya Amara karena tidak melihat keberadaan Anjani.


"Sebentar lagi dia akan datang ke sini." Jawab Aga serata menjatuhkan bokong di atas kursi yang berhadapan dengan Amara.


Amara mengangguk saja. Ia kembali memotong roti lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


Tak berselang lama sosok yang dicari Amara akhirnya tiba. Anjani nampak datang dengan senyuman manis di wajah cantiknya.


"Selamat pagi, Amara, Aga." Sapa Anjani.


"Selamat pagi, Kak." Jawab Amara diikuti rasa bingung melihat sikap Anjani yang sangat ramah dan tersenyum manis kepadanya. 


"Aku ambil sarapan dulu, ya." Pamit Anjani setelah menyapa Amara dan Aga.


Amara mengangguk saja dan berucap dalam hati. "Kenapa sikap Kak Aga dan Kak Anjani aneh sekali. Apa mereka habis kesurupan setelah berduaan di coffe shop tadi malam?"


***