
Tiga hari telah berlalu sejak kepergian Aga ke luar negeri, hidup Amara terasa hampa sebab tak bisa melihat wajah sang pujaan hati secara bertatap mata. Walau setiap hari Aga selalu menyempatkan waktu untuk mengirim pesan kepadanya atau sesekali melakukan video call, namun tetap saja membuat Amara semakin merindukan pria itu.
Seperti malam ini, Aga yang baru saja pulang dari perusahaan mengurus segala permasalahan yang ada menyempatkan melakukan video call pada Amara sebelum membersihkan tubuhnya lebih dulu.
"Sudah makan belum?" Tanya Aga. Kini pria itu nampak membuka kancing lengan kemejanya.
Amara memperhatikan gerak-gerik Aga dengan tatapan merindu. "Sudah, Kak. Baru saja siap." Jawabnya tak bersemangat.
Aga menghentikan kegiatannya sejenak. Ditatapnya wajah Amara yang kini memenuhi layar ponselnya. "Kenapa suaranya berat seperti itu. Apa kau sedang sakit?" Tanya Aga.
Amara menganggukkan kepalanya.
Melihat respon Amara lantas saja membuat Aga jadi cemas. "Sakit apa? Kenapa tidak bilang?" Tanyanya khawatir.
"Sakit malarindu, Kak." Cicit Amara dengan wajah malu-malu.
"Apa? Sakit malarindu." Aga mengulum senyum. "Apa itu sakit malarindu, Amara?" Tanyanya berpura-pura tak tahu.
"Sakit karena merindukan Kakak." Jawab Amara lalu mengalihkan pandangan ke arah samping.
Aga ingin tertawa mendengarnya. Namun niat itu ia urungkan karena tak ingin Amara menjadi malu setelah mendengar suara tawanya.
"Jadi calon istri Kakak saat ini sedang merindukan Kakak ya?" Tanyanya lembut.
"Iya..."
Aga menghela napas dalam. "Sama, Kakak juga merindukanmu. Tahan sebentar lagi ya. Setelah permasalahan di sini selesai, aku akan kembali secepatnya." Ucap Aga.
Amara mengangguk saja walau di dalam hati ia tak yakin bisa sabar menunggu kepulangan Aga.
Helaan napas Aga nampak berat. Melihat itu membuat Amara menyimpulkan jika permasalahan yang sedang Aga hadapi cukup rumit.
"Masih banyak hal yang harus aku selesaikan di sini termasuk menangkap beberapa tersangka penggelapan dana di perusahaan. Tapi untung saja Daniel ada di sini bersamaku sehingga dia dapat membantu permasalahan yang sedang aku hadapi saat ini."
"Semoga permasalahan perusahaan Kakak di sana cepat selesai." Harap Amara.
"Ya. Aku sudah tidak sabar menyelesaikannya hingga akhirnya aku bisa kembali ke tanah air untuk melamarmu." Jawab Aga.
Kedua pipi Amara merona mendengar perkataan Aga yang terdengar sangat manis di telinganya.
Aga kembali melanjutkan kegiatannya membuka seluruh kancing yang melekat di kemeja yang ia kenakan hingga akhirnya melepaskan kemeja dari tubuhnya.
Melihat gerak-gerik Aga saat ini lantas saja membuat kedua pipi Amara terasa panas. Walau saat ini Aga masih menggunakan baju dalaman yang membungkus tubuhnya, namun tetap saja membuat Amara tersipu malu melihatnya.
"Calon istriku, kita lanjutkan nanti lagi ya telefonnya. Aku mau mandi dulu dan aku janji tidak akan lama." Ucap Aga seraya tersenyum.
Amara mengerucutkan bibir. Sebenarnya ia belum puas melihat wajah Aga walau hanya dari layar ponselnya saja. Namun ia juga tak bisa menahan Aga untuk mematikan telefonnya sebab Aga sudah gerah ingin membersihkan tubuhnya.
"Kenapa? Gak mau ya kalau telfonya dimatikan?" Aga menarik sebelah alis tebalnya ke atas.
Pertanyaan Aga pun tanpa sadar dijawab Amara dengan anggukan kepala.
"Baiklah, sepertinya calon istriku ini ingin aku membawa ponselnya ke dalam kamar mandi." Kelakar Aga lalu menahan senyum melihat Amara yang gelagapan setelah mendengar perkataannya.
***