
"Kau ini bicara apa, Dodo? Aku bukan bersemangat membuatkan kopi untuk Tuan Aga tapi Tuan Aga yang mengharuskan aku membuatkan kopi untuknya." Jelas Amara.
Dodo tertegun mendengarkan jawaban Amara. Pemikirannya pun mulai menebak-nebak entah kemana.
"Dodo, kenapa kau hanya diam saja?" Tanya Amara.
"Tidak apa-apa, Nona." Jawab Dodo tak ingin mengatakan apa yang ada di dalam pemikirannya.
Kali ini Amara yang terdiam. Sebenarnya ia sudah malas sekali membuatkan kopi untuk Aga karena hanya akan mengingatkannya pada perjuangannya yang sia-sia.
"Oh ya, Dodo. Tolong antarkan kopinya ke ruangan Tuan Aga, ya. Tuan Aga kan hanya memintaku membuatkan kopi untuknya bukan mengantarkannya juga." Ucap Amara.
"Tapi Nona, bagaimana kalau Tuan Aga merasa tidak suka jika saya yang mengantarnya?" Jawab Dodo.
"Tidak perlu takut. Kau tinggal bilang saja jika ini kopi buatanku. Aku tidak bisa mengantarnya karena tiba-tiba sakit perut dan pergi ke toilet."
Dodo akhirnya pasrah mendapatkan perintah dari Amara.
Amara pun segera beranjak menuju ke kamar mandi setelah memastikan Dodo pergi mengantarkan kopi ke ruangan Aga.
Masuk ke dalam ruangan Aga, Dodo disambut dengan tatapan bingung di wajah Aga. Bagaimana tidak, sepertinya perintahnya tadi sudah jelas meminta Amara yang membuatkan kopi untuknya, lalu kenapa saat ini Dodo yang masuk ke dalam ruangan kerjanya?
"Nona Amara meminta tolong pada saya mengantarkan kopi ke ruangan anda Tuan karena Nona Amara tiba-tiba sakit perut dan ingin pergi ke kamar mandi." Penjelasan dari Dodo akhirnya membuat pertanyaan yang bersarang di kepala Aga terjawab.
"Baiklah." Jawab Aga singkat sambil menatap kopi yang ia pastikan adalah kopi buatan Amara.
"Apa masih ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tawar Dodo memastikan.
Dodo mengangguk paham lalu melangkah meninggalkan ruangan kerja Aga.
Selepas kepergian Dodo, Aga lantas saja langsung menyeruput kopi buatan Amara. Dapat Aga rasakan jika kopi buatan Amara terasa sangat khas jauh berbeda dengan kopi buatan Dodo.
Setelah menyeruput kopi dan menunggu hingga lima belas menit lamanya, akhirnya Aga pun menelefon Amara dan meminta Amara untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya.
"Ada apa Tuan memanggil saya?" Tanya Amara yang kini sudah berdiri di hadapan Aga.
"Apa kau tidak bisa bertanggung jawab dengan amanah yang sudah saya berikan kepadamu?" Tanya Aga.
Kening Amara mengkerut mendengar pertanyaan Aga yang terdengar tidak dimengerti olehnya. "Maksudnya bagaimana ya, Tuan? Amanah yang mana yang Tuan maksud?"
"Kopi ini!" Aga menunjuk kopi di atas meja kerjanya.
"Ada apa dengan kopinya Tuan?" Semakin bingung saja Amara menafsirkan maksud perkataan Aga.
Aga menghela napas lalu menatap Amara dengan kedua mata sedikit memicing. "Kenapa kau menyuruh orang lain yang mengantarkan minuman ini ke dalam ruangan saya. Bukankah saya sudah menugaskannya kepadamu bukan pada orang lain?!" Tekan Aga.
"Hah?" Amara sampai terperangah mendengar perkataan Aga yang terdengar ada-ada saja. "Saya sudah melakukan perintah anda dengan baik, Tuan. Kopi yang sudah anda minum ini adalah hasil buatan saya." Amara memberi sanggahan.
"Tapi bukan kau yang mengantarkannya ke ruangan saya!" Aga kembali menekan perkataannya.
"Maaf, Tuan. Anda hanya meminta saya untuk membuatkan kopi bukan untuk membuat dan mengantarkannya sekaligus ke ruangan kerja anda. Lagi pula saya memiliki alasan yang cukup logis sehingga tidak bisa mengantarkan kopi ini ke ruangan anda."
***