
"Apa?" Amara terkesiap mendengar jawaban dari Aga. Tidak dapat ia bayangkan bagaimana perjalanannya nanti ke kota B hanya berdua di mobil yang sama dengan Aga.
"Nak Aga." Kedatangan Bu Fatma ke depan rumah mengalihkan tatapan Amara dan Aga ke sumber suara.
"Bibi," Aga mengulurkan tangan menyalami Bu Fatma.
"Nak Aga ayo masuk dulu. Kebetulan Amara belum selesai menghabiskan sarapannya." Ajak Bu Fatma.
"Baiklah, Bi." Jawab Aga.
"Oh ya, apa Nak Aga sudah sarapan?" Tanya Bu Fatma saat keduanya sudah masuk ke dalam rumah sementara Amara masih berada di luar rumah memikirkan nasibnya di dalam mobil Aga nanti.
"Kebetulan belum, Bi. Rencananya mau beli sarapan di jalan saja." Jawab Aga. Karena terlalu terburu-buru menjemput Amara, Aga sampai melewatkan sarapannya di rumah bersama Agatha dan Papa Andrew.
"Kalau begit ayo sarapan dulu." Ajak Bu Fatma.
Awalnya Aga nampak sungkan. Namun setelah mendapatkan ajakan kedua dari Bu Fatma membuat Aga tidak bisa menolak hingga akhirnya mengangguk mengiyakan ajakan Bu Fatma.
"Mara, ayo lanjutkan sarapannya." Ajak Bu Fatma pada Amara yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Amara mengiyakannya lalu melangkah ke arah belakang bersama Bu Fatma dan Aga.
Setelah berada di ruang makan, Bu Fatma langsung saja mengambilkan sarapan untuk Aga tak lupa membuatkan teh hangat untuk Aga.
"Ayo dimakan Nak Aga. Maaf ya seadanya saja." Ucap Bu Fatma sungkan.
"Terima kasih, Bibi." Jawab Aga lalu tanpa sungkan menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Dan seperti biasanya, makanan yang dibuat oleh Bu Fatma sudah dapat dipastikan enak dan menggugah selera hingga menambah napsu makan Aga.
Amara yang melihat Aga begitu lahap menyantap sarapan yang dibuat ibunya pun dibuat tertegun karena untuk yang kesekian kalinya Aga selalu menghargai masakan yang dibuat ibunya bahkan memujinya.
"Mara, ayo habiskan sarapannya Nak." Ucap Bu Fatma karena Amara tak kunjung menyuapkan sisa makanannya ke dalam mulut justru menatap pada Aga.
**
Setelah selesai menikmati sarapan bersama dan berbincang ringan dengan Ayah Arif dan Bu Fatma, Aga dan Amara pun akhirnya berpamitan untuk berangkat ke kota B.
"Hati-hati di jalan ya, Nak. Kabari Ibu kalau sudah sampai." Pesan Bu Fatma.
"Iya, Bu. Kalau begitu Mara pergi dulu." Amara masuk ke dalam mobil setelah mendapatkan anggukan kepala dari ibunya.
Mobil milik Aga pun akhirnya melaju meninggalkan kediaman Bu Fatma dan Ayah Arif. Amara yang merasa canggung harus berduaan dengan Aga pun mencoba bersikap tenang dan memainkan ponsel untuk menghilangkan kejenuhan.
"Apa kau tidak ingin bertanya sesuatu?" Tanya Aga memecahkan keheningan di antara mereka.
"Bertanya apa, Kak?" Tanya Amara balik.
Aga mengangkat kedua bahunya hingga membuat Amara bingung dibuatnya.
"Oh ya, Apa Kak Anjani sudah berangkat ke kota B?" Tanya Amara setelah teringat dengan sesuatu.
"Sepertinya sudah. Tadi dia mengirimkan foto jalanan kepadaku."
"Oh..." Amara mengangguk-anggukkan kepalanya. Merasa tidak ada lagi hal yang harus ia bicarakan dengan Aga, Amara memilih kembali diam.
Aga pun memilih ikut diam. Mobil milik Aga terus melaju hingga akhirnya berhenti di depan sebuah minimarket.
"Apa kau ingin menitip sesuatu?" Tawar Aga sebelum keluar dari dalam mobilnya. "Atau lebih baik kau ikut masuk saja ke dalam bersamaku." Lanjut Aga sebelum Amara sempat menjawab ajakannya.
***
Teman-teman baik hati. Bantu kasih bunga dan kopinya yuk untuk Aga dan Amara biar semangat nulisnya ini. Ehe