Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Siapa Dia?


"Ya, dirimu." Jawab Anjani.


Amara menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. "Maaf Kak Anjani. Aku merasa tidak tertarik untuk mendengarnya. Lebih baik kita lanjutkan saja jalannya."


"Tapi, Mara." Anjani hendak meminta Amara untuk berpikir ulang namun melihat tatapan mata Amara yang sudah tak bersahabat membuat Anjani mengurungkan niatnya. "Baiklah kalau begitu." Ajani pun melanjutkan langkah bersama Amara tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.


Amara tersenyum tipis. Ia merasa senang karena Anjani tak lagi memaksanya dan menghargai keputusannya. "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk belajar melupakan Kak Aga. Jadi saat ini aku harus konsisten dengan janjiku. Jangan sampai dengan perkataan Kak Anjani membuat aku ragu dengan keputusanku sendiri." Ucap Amara dalam hati.


**


Amara benar-benar tak memberikan celah pada Anjani untuk membahas tentang Aga lagi di depannya. Amara bahkan mengatur jarak dari Aga dan Anjani karena takut kesalahpahaman kemarin terulang kembali. Bukan hanya itu saja, Amara juga menolak tawaran dari Aga yang ingin mengajaknya jalan-jalan malam itu dengan berbagai alasan dan meminta Aga untuk mengajak Anjani saja.


"Dari pada aku diribetkan dengan masalah hati Kak Anjani pada Kak Aga, lebih baik aku berdiam diri di kamar ini saja." Amara bergumam seraya menatap langit-langit kamar yang didominasi warna putih. Sebenarnya dirinya sangat ingin menikmati waktu di malam hari di kota B dengan berjalan-jalan. Namun dari pada menjadi masalah nantinya, Amara memilih tidak menurutkan keinginannya.


Suara panggilan telefon dari ponselnya mengalihkan pandangan Amara ke arah nakas dimana ponselnya berada. Amara segera merangkak ke arah nakas lalu mengambil ponselnya di sana.


"Rendra," senyuman secerah mentari pagi terbit di wajah cantik Amara melihat nama pemanggil telefon yang tak lain adalah Rendra.


Suara Rendra terdengar menyapa saat panggilan telefon sudah terhubung. Amara tak menyurutkan senyum di wajah cantiknya mendengar suara dari Rendra yang sejak tadi sudah dirindukannya.


"Kapan kau akan kembali, hem? Aku sudah rindu bermain denganmu." Ucap Rendra.


Terdengar hembusan panjang oleh Rendra di seberang sana. Amara dapat menyimpulkan jika Rendra tidak senang mendengar jawaban yang ia berikan.


"Kenapa? Kalau kau rindu, kau bisa bermain dengan Gatha dulu. Kebetulan Gatha juga sendirian tidak ada teman di sana." Saran Amara.


"Ck, kalimat dusta macam apa itu? Siapa bilang Agatha sendirian di sini? Dia bahkan sering menghabiskan waktu dengan seorang pria di sini." Jawab Rendra.


"Apa?!" Suara Amara terdengar melengking. Kedua matanya melotot seakan ingin keluar dari wadahnya. "Kau bilang apa? Agatha menghabiskan waktu dengan seorang pria? Katakan, siapa pria itu?" Suara Amara terdengar tergesa-gesa tidak sabar.


Keheningan menyelimuti Rendra di seberang sana. Rendra terlihat menutup mulut tanpa Amara ketahui. Ia sudah keceplosan berbicara hingga membongkar rahasia Agatha yang sebenarnya tidak boleh Rendra beri tahu pada Amara.


"Rendra... ayo jawab pertanyaanku. Jangan diam saja!"


"Aku hanya bercanda, Mara." Suara Rendra terdengar tersendat hingga membuat Amara menyimpulkan jika Rendra tengah berdusta kepadanya saat ini.


"Apa kau sudah pandai berbohong kepadaku sekarang, Rendra? Apa yang Agatha katakan kepadamu sehingga kau menutup mulut seperti ini?"


Rendra kembali diam seakan sulit untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Amara. Tak mendapat jawaban dari Rendra membuat Amara lantas saja menyambungkan panggilan telefon mereka pada Agatha untuk meminta jawaban.


***