
Amara tak memaksa Aga menghabiskan makanannya. Ia mengerti apa yang Aga rasakan saat ini. Dengan kondisinya yang tengah sakit, Aga pasti tidak berselera untuk makan. Terlebih makanan tersebut adalah makanan rumah sakit.
"Dimakan sedikit saja ya Kak supaya perutnya terisi." Amara berucap seraya menyuapkan kembali makanan ke dalam mulut Aga.
Aga hening tanpa suara. Ia kembali menerima suapan dari Amara. Setelah makanan di dalam piring tinggal setengah, Aga pun menolak suapan dari Amara karena perutnya sudah tak bisa lagi menerima makanan tersebut.
Amara tersenyum saja melihat sikap Aga, kemudian meletakkan kembali piring di atas overbed table.
"Ayo diminum dulu, Kak." Amara membantu Aga untuk minum. Mengingat ada obat yang harus Aga makan setelah makan, Amara pun mengambil obat tersebut dari atas meja kemudian menyuapkannya pada Aga.
"Sekarang Kakak istirahat, ya. Semoga sebentar lagi sakitnya Kakak sudah berkurang."
Aga mengangguk tanpa suara. Rasa sakitnya kini sebenarnya terasa cukup berkurang setelah melihat kedatangan Amara dan dirawat oleh Amara. Rasanya Aga tidak ingin istirahat untuk tidur karena takut saat membuka mata Amara tak lagi berada di dekatnya.
Di tempat berbeda yang tak lain adalah kediaman Papa Andrew, Agatha nampak menimbang-nimbang apakah harus kembali dengan cepat ke rumah sakit atau tidak.
"Sebaiknya aku jangan cepat-cepat kembali ke rumah sakit. Aku harus memberikan waktu untuk Kak Aga dan Amara berduaan untuk memahami perasaan masing-masing."
Setelah mengambil keputusan untuk membiarkan Amara dan Aga bisa berduaan dalam waktu lama di rumah sakit, Agatha pun memilih mengistirahatkan tubuh di atas ranjang barang beberapa saat.
Langkah pertama yang Agatha tempuh untuk mencaritahu kabar Rendra adalah dengan menghubungi nomer telefon pria itu. Setelah mendengar suara dari pihak operator yang mengatakan nomer telefon Aga tidak aktif, Agatha lantas saja menghubungin nomer cadangan yang tak lain adalah asisten Rendra.
Cukup lama Agatha menunggu asisten Rendra mengangkat panggilan telefon darinya, hingga akhirnya percobaan panggilan ketiga berlangsung, panggilan pun terhubung. Agatha tanpa basa-basi langsung saja mempertanyakan keberadaan Rendra pada sang asisten. Jawaban yang didapatkannya dari asisten Rendra tak berhasil menjawab penuh pertanyaan Agatha justru membuat pertanyaan baru bersarang di kepala Agatha.
"Kalau Rendra masih bekerja seperti biasanya dan tinggal di rumahnya, lantas kenapa Rendra bersikap tidak seperti biasanya?" Gumam Agatha. Pertanyaan itu kini berputar di kepala Agatha. Sikap Rendra saat ini sangat misterius dan sulit untuk terpecahkan.
"Aku harus mencaritahu ada apa dengannya. Aku yakin telah terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui apa. Karena Rendra tidak mungkin berubah jika tidak ada sebuah alasan yang mendominasi."
Di tengah kebingungan Agatha, Amara yang masih menemani Aga di dalam ruangan perawatan Aga kini nampak membantu Aga turun dari atas ranjang untuk pergi ke kamar mandi.
"Maaf," lirih Aga saat tubuhnya tak sengaja menyenggol bahu Amara akibat rasa pusing yang mendera.
"Tidak masalah. Kakak sepertinya masih pusing. Bagaimana kalau aku bantu Kakak pipi di dalam kamar mandi?" Tawar Amara.
"Apa, maksudnya bagaimana?" Tanya Aga bingung dengan tawaran yang Amara berikan.
***