Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Situasi Sulit


"Syukurnya tidak. Aku sedang bersama Papa saat itu."


Rendra menghembuskan napas lega. Namun rasa lega yang ia rasakan tak berlangsung begitu lama karena Agatha melanjutkan perkataannya.


"Namun Amara sudah mengetahui kedekatanmu dengan Okta lewat Bu Fatma. Bu Fatma menceritakan pada Amara jika kau belanja di tokonya bersama seorang wanita."


Rendra terkesiap. Kebodohan yang ia lakukan saat itu ternyata menjadi malapetaka untuknya saat ini.


"Astaga, apa Amara sudah berpikir buruk tentangku setelah mendengar cerita itu."


"Tentu saja." Agatha menyahut cepat hingga membuat Rendra mengusap kasar wajah tampannya.


Rendra menghela napas dalam-dalam. Wajahnya terlihat frustrasi saat ini.


"Katakan yang sejujurnya pada Amara secepatnya agar Amara tidak lagi salah paham dengan sikapmu. Namun jika kau masih mengundur waktu, aku bisa membantumu menyampaikannya pada Amara." Agatha berucap lembut namun tersirat sebuah ancaman di dalamnya.


Bulu kuduk Rendra terasa berdiri setelah mendengarkan perkataan Agatha. Ia menatap wajah Agatha intens. "Aku akan mengusahakannya secepatnya." Jawabnya.


"Ck, kalau bisa hari ini juga atau besok karena sebentar lagi kau akan menikah. Jangan sampai kau memberitahunya pada Amara saat kau sudah menikah dengan wanita bernama Okta itu. Aku tidak akan segan menghajarmu jika itu semua terjadi!"


"Baiklah," Rendra mengangguk pasrah. Acara pernikahannya dan Okta tinggal menghitung hari dan sebelum hari itu tiba ia harus melihat kesedihan di wajah Amara karena pernyataan yang ia berikan.


"Apa aku sanggup untuk menikah setelah aku melukai hati wanita yang sangat aku cintai?" Rendra berucap lirih dalam hati. Jika bisa, ingin sekali Rendra membatalkan pernikahannya dengan Okta. Namun semua itu tidak mungkin bisa Rendra lakukan mengingat sang mama sudah berjanji pada Okta untuk menikahi dirinya dengan Okta.


**


Selama berada dalam perjalanan menuju perusahaan, Agatha terus teringat dengan jawaban yang Rendra berikan kepadanya. Agatha sungguh tidak menyangka, jika sedikit cinta yang sudah Amara berikan untuk Rendra harus layu sebelum berkembang.


Perjalana menuju perusahaan terasa cepat akibat Agatha melewatinya dengan sedikit melamun. Sampai di perusahaan, Agatha langsung saja menuju lantai teratas perusahaan dimana ruangan kerja Amara berada.


Deg


Baru saja keluar dari dalam lift yang mengantarkannya ke lantai tertinggi perusahaan, Agatha sudah disambut dengan wajah menyebalkan seorang pria yang sangat dihindarinya akhir-akhir ini.


Pria yang ditatap oleh Agatha kini nampak terkejut melihat Agatha berada di depannya saat ini.


"Kau, kenapa kau ada di sini?" Tanya pria itu.


Agatha menatapnya dengan sinis lalu berkata. "Bukan urusanmu!" Ucapnya lalu melewati pria itu begitu saja. Ia tidak ingin moodnya semakin hancur karena berdebat dengan pria itu seperti yang sebelumnya terjadi pada mereka.


Pria yang ditinggalkan oleh Agatha begitu saja nampak menyunggingkan senyum. "Menarik. Tapi tidak bisa diganggu untuk saat ini." Gumamnya mengingat ada acara penting yang harus ia hadiri sebentar lagi. Pria itu pun akhirnya melanjutkan niat untuk masuk ke dalam lift sambil menahan diri agar tidak mengejar Agatha.


Agatha yang kini sudah berada di depan meja kerja Amara nampak tertegun melihat wajah Amara yang nampak sembab seperti habis menangis. "Mara, ada apa denganmu?" Tanya Agatha dengan raut wajah cemas.


***