
Tak lama menunggu, Sisil telah keluar dari dalam rumah dan segera mengunci pintu rumahnya. Cakra yang berdiri tidak jauh darinya hanya diam memperhatikan gerak-geriknya.
"Ayo, Tuan." Ucap Sisil setelah selesai mengunci pintu rumahnya.
Cakra mengangguk tanpa suara. Kemudian melangkah ke arah mobil menggunakan payung untuk melindungi kepalanya dari air hujan.
Sementara Sisil tak memperdulikan air hujan mengenai rambutnya. Ia segera berlari ke arah mobil Cakra kemudian masuk ke dalamnya.
Huft
Sisil menghela napas dalam setelah masuk ke dalam mobil milik Cakra. Ditatapnya sosok Cakra yang saat ini sedang menghidupkan mesin mobilnya.
Sebenarnya ia merasa sungkan karena sudah dua kali merepotkan Cakra. Namun, ia tak punya pilihan untuk menolak. Terlebih ia sangat membutuhkan bantuan tumpangan Cakra untuk pergi ke rumah sakit saat ini.
"Maaf sudah kembali merepotkan anda, Tuan." Ucap Sisil setelah mobil milik Cakra melaju meninggalkan depan rumahnya.
Cakra hanya menatap wajah Sisil sekilas tanpa berniat menjawab perkataan Sisil.
Melihat respon yang diberikan Cakra tak membuat Sisil merasa tersinggung. Sebab, ia sudah cukup bersyukur karena Cakra sudah berbaik hati mau mengantarkannya pergi ke rumah sakit.
"Dimana alamat rumah sakitnya?" Tanya Cakra setelah mobil miliknya keluar dari dalam gang rumah Sisil.
"Di jalan..." Sisil menyebutkan dengan lengkap alamat rumah sakit tempat ibunya dirawat saat ini.
Cakra yang mendengarkannya pun kembali tak memberikan jawaban dan memilih fokus pada kemudi.
Selama berada di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Sisil dan Cakra hanya diam seakan tak berniat mengeluarkan suara satu sama lain. Cakra diam sambil memikirkan apakah keputusannya tadi menyambangi rumah Sisil sudah benar, sementara Sisil kembali bertanya-tanya apakah tujuan Cakra tadi datang ke rumahnya bukan mengada-ngada.
"Apa Tuan Cakra tidak percaya ya jika jasnya akan aku kembalikan setelah dicuci?" Pikir Sisil. Bukan tanpa alasan ia berpikiran demikian, mengingat harga jas Cakra yang pastinya selangit, Cakra pasti merasa was-was jika jas miliknya itu berada di tangan orang tak berada seperti dirinya.
**
"Terima kasih, Tuan." Maaf sudah merepotkan." Ucap Sisil merasa tak enak hati.
Cakra hanya mengangguk tanpa bersuara kemudian keluar dari dalam mobilnya setelah Sisil keluar dari dalam mobilnya.
Sisil yang melihat Cakra ikut keluar dari dalam mobil pun dibuat bingung dengan tujuan Cakra saat ini.
"Kenapa Tuan ikut keluar?" Tanya Sisil.
"Memangnya kenapa? Masalah?" Jawab Cakra datar.
"Bukan seperti itu, Tuan. Maksud saya..." Sisil bingung harus menjawab apa. Ia merasa sudah salah berbicara.
"Sekarang pergilah. Bukannya kau ingin pergi menemui ibumu." Ucap Cakra sebab Sisil hanya diam saja.
Sisil menganggukkan kepalanya kemudian berpamitan pada Cakra untuk pergi tanpa berniat mempertanyakan lagi tujuan Cakra keluar dari dalam mobilnya.
Melihat Sisil sudah masuk ke dalam rumah sakit membuat Cakra akhirnya melangkah mengikutinya dari belakang.
Entah apa yang sedang dirasakan Cakra saat ini. Yang jelas ia merasa seperti seorang penguntit yang ingin mengikuti Sisil pergi tanpa diketahui oleh Sisil.
"Cakra?" Seorang dokter wanita muda yang mengenali sosok Cakra memanggil nama Cakra hingga membuat pergerakan Cakra yang sedang mengikuti Sisil terhenti.
"Nona Dara?" Kedua kelopak mata Cakra terbuka lebar menatap sosok sepupu Aga yang kini berdiri tidak jauh darinya berada.
***