Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Tidak Perlu Memikirkannya


Pelukan Aga yang terasa sangat hangat masih membekas di tubuh Amara walau Amara sudah selesai membersihkan tubuhnya sore itu. Beberapa kali Amara menggeleng mencoba mengusir segala pemikirannya tentang Aga namun usahanya sia-sia karena wajah Aga terus saja berkeliaran di dalam benaknya.


"Kau ini memikirkan apa sih Amara!" Amara sampai memukul kepalanya secara berulang berharap segala pemikirannya tentang Aga dapat hilang. Menyadari usahanya sia-sia saja, Amara memilih menjatuhkan bokong ke atas ranjang lalu membalas pesan dari Rendra yang sudah siang ia abaikan.


"Rendra..." kedua sudut bibir Amara tertarik sempurna membaca pesan masuk dari Rendra yang berisi candaan untuknya. "Dia itu ada-ada saja. Sedang rapat masih saja bisa menyempatkan waktu untuk bercanda denganku." Tak ingin membuang waktu lama membalas pesan dari Rendra, Amara lantas saja membalas pesan tersebut. Baru saja pesan terkirim, terdengar panggilan masuk dari Rendra.


Amara tentu saja langsung mengangkatnya. Keduanya pun terlibat percakapan cukup lama diiringi canda tawa. Percakapannya dengan Rendra lewat sambungan telefon sore itu akhirnya berhasil menghilangkan sejenak pemikiran Amara tentang Aga.


"Rendra itu selalu saja ada-ada saja." Amara menatap layar ponselnya yang memperlihatkan foto profil Rendra setelah panggilan telefon keduanya terputus.


Seperti belum puas bercanda tawa dengan Amara lewat sambungan telefon, Rendra kembali mengirimkan pesan berisi candaan pada Amara. Pesan tersebut langsung saja dibaca oleh Amara yang masih memegang ponselnya di tangannya.


Belum sempat membalas pesan dari Rendra, perhatian Amara sudah beralih pada panggilan telefon dari Aga.


"Kenapa Kak Aga menelefonku?" Gumam Amara. Setelah beberapa detik hanya menatap panggilan masuk dari Aga, akhirnya Amara menggeser icon bewarna hijau untuk mengangkat panggilan dari Aga.


"Malam ini kita akan makan di luar bersama dengan Dio dan Hanum." Ucap Aga tanpa basa-basi setelah panggilan keduanya terhubung.


"Apa, makan di luar bersama Kak Dio dan Kak Hanum? Apa mereka berdua sedang berada di  kota ini sekarang, Kak?" Tanya Amara.


"Apa Kak Anjani akan ikut bersama kita, Kak?" Tanya Amara mengingat bukan hanya mereka berdua yang datang ke kota B saat ini.


Keheningan sejenak menyelimuti percakapan Aga dan Amara. Merasa tidak mendapatkan jawaban dari Aga, Amara lantas saja kembali bertanya pada Aga.


"Anjani tidak ikut. Cukup kita berdua saja yang pergi." Ucap Aga.


Tak ada bantahan yang keluar dari mulut Amara. Ia menurut saja dengan keputusan Aga karena tidak merasa dirugikan dan diuntungkan jika Anjani ikut atau tidak. Hanya ada satu hal yang mengganggu pemikiran Amara saat ini, tentu saja dengan kondisi kepala Aga yang masih diperban akibat dijahit.


"Ini hanya luka kecil, tidak perlu mencemaskannya." Ucap Aga yang mengerti kegundahan Amara saat ini.


"Baiklah, Kak. Kalau begitu aku siap-siap dulu. Tunggu aku di dalam mobil Kakak saja. Tidak enak jika Kak Anjani melihat kita pergi tanpa membawa dirinya."


Aga tak mengiyakannya atau membantah. Ia membiarkan saja Amara terus berbicara tentang Anjani hingga panggilan keduanya akhirnya terputus.


"Kenapa dia selalu saja memikirkan orang lain? Apa tidak bisa memikirkan dirinya sendiri saja?" Gumam Aga heran.