Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Tak Bisa Menolak


Kali ini Aga tak ingin melewatkan kesempatan yang ada. Tanpa memperdulikan jika seseorang mungkin melihat aksinya, Aga lantas saja memberikan kecupan di kening Amara yang berhasil membuat Amara membuka kedua kelopak matanya yang sempat terpejam.


"Kak Aga..." Amara terbata. Menatap wajah Aga dengan kedua pipi yang terasa panas dan merona.


"Sarapan pagi untukmu." Ucap Aga tersenyum manis.


Amara terperangah. Terkejut tak percaya mendapatkan ciuman tak terduga dari Aga. Pandangannya pun tertuju pada sosok Cakra yang berdiri tak jauh dari mereka berada. Pria itu nampak mengalihkan pandangan saat ditatap olehnya.


"Saya tidak melihat apa-apa." Ucap Cakra saat Aga membalikkan tubuh ke arahnya.


Aga menyunggingkan senyum kemudian menatap kembali pada Amara. "Kau dengar, dia tidak melihat sarapan pagimu tadi." Ucapnya berkelakar.


Wajah Amara semakin memerah. Tak tahan menahan malu pada Cakra yang ternyata melihat aksi Aga.


"Selamat bekerja dengan baik karena asupan pagimu sudah terpenuhi." Setelah berucap, Aga melangkah meninggalkan meja kerja Amara begitu saja.


Cakra yang berdiri dekat dengan ruangan kerjanya pun akhirnya mengikuti langkah Aga. Tadinya ia memang berniat untuk masuk ke dalam ruangan kerja Aga. Tak menyangka jika ia harus melihat pemandangan yang membuat sakit mata.


Setelah kepergian Aga dan Cakra, sebelah tangan Amara terangkat memegang keningnya yang tadi dicium oleh Aga dan masih terasa sentuhannya sampai saat ini. "Kak Aga menciumku? Apa aku sedang tidak bermimpi?" Amara menepuk kedua pipi. Ternyata semuanya benar nyata dan ia sedang tidak bermimpi.


**


Di saat waktu istirahat sudah hampir tiba, Amara menyempatkan membuka grup lambe turah di ponselnya. Di sana terlihat ratusan chat memenuhi isi grup. Amara merasa penasaran, ia membuka grup itu dan membaca pesannya.


"Kira-kira siapa wanita beruntung yang dicintai Tuan Aga kata Ulva itu, ya?" Beberapa wanita di dalam grup saling melempar tanya. Dari yang Amara baca, di sana tertulis jika Ulva sempat menyampaikan sesuatu pada mereka jika Aga sudah memiliki seorang wanita yang dicintainya.


Beberapa wanita lainnya pun mulai menebak-nebak siapakah wanita itu. Namun tidak ada satu pun yang mengarah kepadanya karena menurut mereka Aga hanya menganggap dirinya sebagais seorang adik ipar.


Amara pun merasa lega melihat tidak ada namanya tersebut di sana. Ia pun berterima kasih pada Ulva karena wanita itu sudah mau menjaga rahasia jika beberapa hari yang lalu Ulva sempat melihat dirinya dan Aga sedang berkencan di dalam mall.


Baru saja hati Amara merasa lega karena namanya tidak terseret dalam daftar wanita yang dicintai Aga, kini Amara sudah dibuat gugup saat Aga mengajaknya untuk pergi makan siang bersama.


"Kak Aga pergi sendiri saja, ya. Kebetulan aku mau makan di sini saja siang ini." Tolak Amara. Ia tak ingin terdengar isu kedekatannya dengan Aga jika orang lain melihatnya pergi makan siang berdua dengan Aga.


"Apa kau yakin ingin menolak? Ini adalah permintaan dari Zeline. Saatini Zel bersama kedua orang tuanya sudah menunggu kita di resto untuk mengajak makan bersama." Ucap Aga dengan sebelah alis menukik ke atas.


Amara terkesiap. Ia seakan tak punya pilihan lain selain mengiyakan ajakan Aga. Terlebih mana bisa dirinya menolak ajakan dari keponakan centilnya itu. Bisa-bisa nanti Zel akan mengoceh karena dirinya menolak ajakannya untuk makan siang bersama.


***


Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴