
Amara segera membalas pesan yang baru saja masuk dari Rendra. Mengatakan jika dirinya setuju dengan ajakan Rendra untuk bertemu. Setelah membalas pesan Rendra, pandangan Amara pun beralih pada Agatha.
"Sebenarnya jawaban apa yang akan aku dapatkan dari Rendra nanti malam, Gatha?" Amara merasa penasaran. Rasanya jika harus menunggu malam, Amara tak sanggup menahan rasa penasaran sendiri.
"Kau akan mendengarnya langsung dari Rendra, Amara. Maaf aku tidak bisa memberitahukanmu untuk itu."
Amara mengangguk paham. Ia tak lagi berniat memaksa Agatha untuk memberitahu karena ia yakin Agatha tidak akan mau memberitahukannya.
Di tengah pembicaraan mereka, Aga nampak keluar dari dalam ruangan kerjanya membawa sebuah map di tangannya.
"Agatha," Aga nampak terkejut melihat Agatha yang kini berada di perusahaannya.
Agatha tersenyum pada Kakaknya itu. "Apa kau dan Kak Aga akan pergi rapat Mara?" Tanya Agatha setelah mengalihkan pandangan pada Amara.
Amara mengangguk membenarkannya. Setelah mendapatkan jawaban dari Amara, Agatha pun berpamitan untuk pergi. Ia sudah cukup puas setelah memastikan keadaan Amara baik-baik saja ditambah mendapatkan informasi jika Rendra sudah bergerak untuk memberitahu Amara tentang permasalahannya saat ini.
**
Waktu yang ditunggu Amara untuk bertemu Rendra akhirnya tiba. Malam itu tanpa menikmati makan malam bersama kedua orang tuanya lebih dulu, Amara pergi ke sebuah taman yang menjadi tempat pertemuannya dengan Rendra.
Karena terlalu cepat datang, Amara datang lebih dulu dari Rendra. Hampir dua puluh menit Amara menunggu di kursi taman, akhirnya sosok Rendra yang ditunggunya sejak tadi pun tiba.
Amara segera bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan Rendra dengan senyuman.
"Apa kau sudah lama? Maaf sudah membuatmu menunggu." Wajah Rendra nampak sungkan.
Amara tersenyum seraya menggeleng. "Tidak terlalu lama. Ayo duduk dulu."
Rendra mengangguk lalu menjatuhkan bokong di kursi yang sama dengan Amara. Keheningan sejenak menyelimuti Amara dan Rendra. Jika Rendra diam karena tengah menyusun kata untuk membuka percakapan di antara mereka, Amara justru diam karena menunggu Rendra untuk bersuara.
"Maaf, untuk apa?" Tanyanya bingung.
Rendra menghela napas dalam-dalam.
"Apa kau sudah membuat kesalahan kepadaku?" Lanjut Amara menebak.
Rendra meneguk salivanya susah payah. Sulit untuk mengutarakan isi kepalanya saat ini.
"Rendra..." Amara kembali suara menuntut sebuah jawaban.
"Maaf karena kau telah terlalu lama menunggu kabar dariku, Mara. Beberapa waktu belakangan ini aku terkesan menjauhimu."
Amara sedikit memiringkan posisi duduknya agar bisa lebih leluasa menatap wajah Rendra. "Bisakah kau menjelaskan sesuatu kepadaku? Kenapa kau hilang tanpa kabar dan tidak mau membalas pesan dariku? Nomer ponselmu bahkan tidak aktif."
Lidah Rendra terasa kelu untuk menjawab namun ia tetap memaksanya untuk bisa menjawab pertanyaan Amara.
"Amara, maafkan aku. Mungkin setelah mendengarkan penjelasanku ini akan membuatmu kecewa kepadaku. Atau mungkin kau menganggapku sebagai pria jahat."
"Katakan saja. Aku akan mencoba menerimanya dengan baik." Amara memasang wajah tenang seolah tidak terganggu dengan kalimat Rendra yang menyiratkan sebuah permasalahan untuk mereka.
"Aku akan menikah sebentar lagi, Mara." Rendra langsung menyatakan inti. Perkataannya pun berhasil membuat Amara terkesiap hingga wajahnya terlihat tegang.
"Me-menikah, apa maksudnya ini, Rendra?" Tanya Amara dengan kedua bola mata yang nampak berkilat bening.
***