Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Setulus Cinta Rendra


Amara tertegun mendengar perkataan Agatha yang seolah mendukungnya untuk dekat dengan Rendra sementara sebelumnya Agatha sangat mendukungnya untuk bisa mendapatkan Aga.


"Agatha?" Amara menatap wajah Agatha penuh tanya. Agatha yang mengerti dengan kebingungan Amara pun menggenggam lembut tangan Amara.


"Aku akan mendukung apa pun yang terbaik untukmu."


Amara tersenyum mendengarnya. Ia jadi mulai berpikir apakah sudah saatnya ia membuka hati untuk pria lain mengingat selama ini hatinya selalu stuck untuk Aga sementara Aga tidak pernah membalas perasaannya.


Kedatangan Rendra kembali ke meja mereka membuat percakapan Amara dan yang lainnya terhenti. Noah yang ingin memberikan ruang pada Amara untuk Rendra dan Amara menjalin kedekatan pun mengajak Agatha untuk pindah ke meja lain.


Mendapat kesempatan berduaan dengan pujaan hatinya lantas saja membuat Rendra merasa sangat senang dan memanfaatkan kesempatan yang ada.


"Apa kau tidak kedinginan hanya menggunakan pakaian minim seperti ini?" Tanya Rendra.


Amara menatap penampilannya dengan rasa malu. "Sebenarnya iya. Tapi efek berjoget tadi membuat tubuhku terasa hangat."


Rendra tersenyum mendengarnya. "Lain kali jangan berpakaian minim seperti ini. Kau terlihat lebih cantik jika menggunakan pakaian tertutup."


Amara mengangguk saja seraya mengulas senyum. Di dalam hatinya Amara merasa sangat kagum pada Rendra yang selalu mengingatkannya pada kebaikan.


"Oh ya, Rendra. Apa selama ini kau tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain?" Tanya Amara.


Rendra menggeleng. "Tidak ada. Hatiku hanya stuck kepadamu saja. Aku tidak bisa berpaling mencari hati yang lain."


"Memang banyak wanita cantik yang aku jumpai di sana namun tidak ada yang mengalahkan keindahan dirimu, Amara." Jawab Rendra dengan lembut.


Hati Amara terasa hangat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Rendra. Amara tidak menyangka jika setulus ini Rendra menaruh perasaan kepadanya. Jika dipikir-pikir, bisa saja sebenarnya Rendra mendapatkan wanita yang lebih baik mengingat latar belakang keluarga Rendra bukanlah berasal dari kalangan biasa. Namun pada kenyataannya sampai saat ini Rendra masih saja menaruh hati kepadanya dan setia menantinya.


Percakapan di antara Rendra dan Amara terus berlanjut. Aga yang sejak tadi menatap interaksi keduanya nampak diam dengan tatapan yang masih tak terbaca.


"Bagaimana kalau kita menghampiri Agatha saja. Aku rasa sejak tadi kau selalu menatap ke arahnya dan sangat mengkhawatirkannya?" Tawar Anjani. Acara pertemuannya dengan Aga malam ini jadi terkesan sangat dingin karena Aga sejak tadi hanya menatap ke arah Agatha tanpa berniat mengajaknya untuk berbicara.


"Kita pulang saja. Lain kali kita bisa mencari waktu untuk bertemu namun tidak di tempat ini." Ajak Aga.


Anjani menghela napas mendengarnya. Dari pada hanya duduk diam di sana lebih baik Anjani mengiyakan saja ajakan Aga yang memintanya untuk pulang.


Sebelum benar-benar meninggalkan klub, Aga sejenak melirik ke arah Amara yang kini nampak tertawa bersama Rendra. Entah apa yang mereka bicarakan hingga bisa tertawa lepas seperti itu. Yang jelas Aga dapat melihat keceriaan di wajah Amara saat berbicara dengan Rendra seperti saat ini.


"Aga?" Anjani menegur Aga yang kembali menoleh ke belakang menatap ke arah seseorang yang ia kira adalah Agatha.


"Ayo." Jawab Aga lalu melangkah lebar meninggalkan klub.


***