
"Wah, benarkah begitu?" Ibu Rendra nampak tak percaya. Anggukan kepala dari Aga pun berhasil menjawab pertanyaan. "Kalau begitu Tante doakan semoga kalian secepatnya bisa menikah, ya."
Aga menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Tante. Secepatnya kami akan menikah."
Amara semakin dibuat terperangah mendengarnya. Namun ia tak bisa menyangkal perkataan Aga selain hanya diam saja.
Ibu Rendra akhirnya berpamitan pergi untuk menyambut tamu undangan lain yang sudah hadir. Kepergiannya pun membuat Amara merasa lega karena tak lagi mendengar pernyataan absurd dari Aga.
"Apa maksud perkataan Kak Aga tadi?" Amara menatap Aga dengan tatapan menuntut.
"Memangnya aku berkata apa?" Aga memasang wajah tanpa dosa hingga membuat Amara gemas melihatnya.
Amara yang ingin melanjutkan pertanyaannya terpaksa mengurungkan niatnya saat mendengar suara pembawa acara yang sedang bersiap-siap membuka acara mereka pagi itu.
"Kak Aga, Amara." Suara Agatha yang terdengar mengalun di telinga mereka membuat pandangan keduanya menoleh ke sumber suara. Tak jauh dari mereka berada, Agatha nampak masuk ke dalam rumah bersama dengan Papa Andrew.
"Gatha, kau sudah datang." Amara menyematkan senyum.
"Sudah. Acara belum dimulai kan?" Tanyanya sambil menatap sekitar.
"Ini baru mau dimulai." Jawab Amara.
Pandangan Agatha dan Paman Andrew pun jatuh pada sebuah tangan yang melingkar di pinggang Amara setelah Amara menjawab pertanyaan Agatha.
"Ehm, sepertinya ada yang sedang menunjukkan kepemilikannya nih!" Goda Agatha.
Aga menarik sebelah sudut bibir tanpa menyahut perkataan Agatha. Sementara Papa Andrew yang mendengarnya dibuat tersenyum.
Suara pembawa acara yang terdengar ingin membuka acara akad pagi itu membuat Agatha dan yang lainnya bungkam. Pandangan mereka kini fokus pada penghulu yang sudah duduk berhadapan dengan Rendra.
"Sepertinya masih di kamar. Dia akan keluar setelah akad selesai dibacakan."
Agatha mengangguk paham. Kemudian kembali fokus pada meja akad.
Di depan penghulu dan wali dari Okta, Rendra kini nampak sudah berjabat tangan dengan seorang pria yang menjadi wali Okta. Keduanya tengah berlatih sejenak sebelum akad yang sesungguhnya dibacakan.
Amara dan Agatha yang mendengar Rendra beberapa kali salah menyebutkan nama panjang Okta dibuat saling pandang. Terlebih di akhir kesalahannya Rendra menyebutkan nama belakang Amara.
Aga yang ikut melihat dan mendengarnya pun menatap dingin ke arah Rendra. Ia dapat mengerti perasaan Rendra saat ini sehingga beberapa kali salah menyebutkan nama hingga akhirnya menyebutkan nama panjang Amara. Tak berbeda jauh dari Rendra, sebelumnya Aga juga pernah merasakan hal yang sama. Niatnya yang ingin menikahi pujaan hatinya harus pupus di tengah jalan. Aga mengerti bagaimana sakitnya hingga akhirnya rasa ikhlas membuatnya menjadi tenang dan lebih bahagia.
"Mara..." Agatha berucap lirih.
Amara menggenggam sebelah tangan Agatha. "Kita doakan saja yang terbaik." Ucap Amara.
Setelah beberapa kali berlatih mengucapkan akad, akhirnya pembacaan akad yang sesungguhnya pun dimulai. Rendra sudah kembali menjabat tangan wali hakim kemudian mengucapkan akad setelah mendengar ucapan wali hakim.
"Sah..." suara sah terdengar menggelegar hingga ke sudut ruangan setelah Rendra berhasil mengucapkan akad dengan benar.
Amara dan Agatha yang mendengarnya saling pandang kemudian mengucap rasa syukur karena Rendra sudah berhasil melakukan tugasnya dengan baik dan sudah berganti status sebagai suami orang.
"Alhamdulillah..."
***
Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴