Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Pertahanan Mulai Runtuh


Di sepanjang jalan menuju perusahaan, Amara termenung. Memikir apa yang tengah ia rasakan saat ini. Amara kemudian memegang jantungnya yang terus berdebar tak karuan karena berada dekat dengan Aga seperti saat ini.


"Kenapa aku selalu tidak bisa mengontrol hatiku jika berada dekat dengan Kak Aga. Apa perkataan Kak Naina itu benar jika sampai saat ini aku masih mencintai Kak Aga?"


Motor milik Aga terus melaju dengan kecepatan sedang diiringin lamunan Amara yang semakin larut. Terlalu larut memikirkan perasaannya pada Aga membuat Amara tidak sadar jika sejak tadi Aga mengajaknya berbicara bahkan kini motor yang Aga kendarai sudah memasuki area perusahaan.


"Wah, itu Amara sudah kembali dengan Tuan Aga. Kira-kira mereka dari mana ya." Bisik-bisik karyawan mulai terdengar. Amara yang sedang melamun pun tersadar dari lamunannya.


"Astaga, ternyata kami sudah sampai." Amara mencoba menetralkan ekspresi wajahnya yang terkejut.


"Ayo turun." Ajak Aga setelah memasuki area parkir.


Amara mengangguk. Ia turun sambil perpegangan dengan pundak Aga.


Pergerakan yang ia lakukan pun ternyata tak lepas dari pandangan beberapa wanita yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya. Beberapa orang yang melihatnya pun tak lupa mengabadikan momen itu dengan memfotonya.


"Astaga, anggota lambe turah kantor ternyata sedang memperhatikanku dan Kak Aga." Amara menghela napas. Semakin kuat saja dugaannya jika grup lambe turah kantor kini sedang ramai membicarakan dirinya.


"Sini aku bantu," ditengah bisik-bisik karyawan, Aga melakukan hal yang membuat para karyawan semakin menjerit. Bagaimana tidak, saat ini Aga tengah membantu Amara melepaskan helm yang terpasang di kepala Amara. Melihat itu, membuar para karyawan yang melihatnya semakin yakin jika Aga dan Amara sedang menjalin sebuah hubungan.


Amara merasa risih melihat tatapan orang-orang yang kini tertuju kepadanya. Sementara Aga hanya acuh saja. Saat mereka sudah keluar dari area parkiran, barulah beberapa karyawan itu bubar.


"Huh, mereka itu terkadang tidak sopan menceritakan bosnya sendiri." Gumam Amara.


"Ayo masuk ke sini!" Aga memerintah lewat tatapan matanya.


Amara menggeleng. Ia tak ingin masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan karena akan membuat seisi kantor menjadi heboh kembali.


"Masuk atau aku akan memegang tanganmu?" Aga memberikan pilihan yang pastinya membuat Amara tak bisa berkutik.


Akhirnya Amara pun melangkah masuk ke dalam lift petinggi perusahaan bersama dengan Aga. Melihat itu, lantas saja membuat orang-orang yang melihatnya kembali berbisik-bisik.


"Ada apa?" Aga bertanya setelah lift bergerak naik menuju lantai tertinggi perusaahan.


"Ada apa bagaimana, Kak?" Tanya Amara tak mengerti.


"Aku lihat sejak tadi kau lebih banyak diam dan termenung. Apakah saat ini ada hal yang mengganggu pemikiranmu?" Suara Aga terdengar lembut. Pun dengan sebelah tangannya yang sudah berada di pipi Amara mengusapnya dengan lembut.


Tubuh Amara seketika menegang merasakan usapan lembut tangan Aga di sebelah pipinya. Ia pun tertunduk dengan wajah memerah. "A-aku..." Amara terbata. Sulit untuk berkata-kata. Sungguh, pergerakan Aga saat ini mematikan akal sehatnya yang ingin menjauh dari Aga. Pemikiran Amara akhirnya kalah dengan hatinya sendiri.


***


Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴