
"Amara, maafkan aku..." hanya kalimat itulah yang bisa Rendra ucapkan pada wanita yang sangat ia cintai itu hingga akhirnya mereka berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
Pertemuan Amara dan Rendra malam ini menyisakan sakit yang tak terhingga di hati Amara. Dimana Amara harus menerima sebuah kenyataan pahit jika pria yang baru saja singgah di hatinya akan menikah dengan wanita lain.
Perjalanan menuju pulang ke rumahnya di lewati Amara dengan isakan tangis. Amara bukan hanya bersedih karena ditinggal menikah oleh Rendra. Namun juga karena bersedih kenapa jalan hidupnya sepelik ini. Dari mulai cintanya yang tak terbalas oleh Aga hingga akhirnya cintanya harus layu sebelum berkembang karena seorang Rendra.
"Hidupku menyedihkan sekali." Amara bergumam disela isakan tangisnya.
Suara panggilan telefon dari Agatha diabaikan begitu saja oleh Amara. Ia tidak berniat mengangkat panggilan telefon dari Agatha. Amara tidak ingin sahabat baiknya itu mengetahui jika dirinya sedang menangis saat ini.
"Agatha pasti cemas jika mendengar suara tangisanku." Ucap Amara dalam hati.
Setelah menempuh perjalanan lima belas menit lamanya, akhirnya mobil milik Amara sampai di kediaman orang tuanya. Sebelum turun dari dalam mobil, Amara memastikan kondisi wajahnya lebih dulu. Ia tidak ingin kedua orang tuanya melihat matanya yang nampak sembab karena habis menangis.
Setelah memastikan wajahnya tidak memperlihatkan dengan jelas jika ia baru saja menangis, Amara pun segera keluar dari dalam mobil. Saat hendak mengetuk pintu rumah, samar-samar Amara mendengar suara yang tidak asing di telinganya berasal dari dalam rumahnya.
"Zeline, itu suara Zeline kan?" Gumam Amara.
Merasa penasaran apakah ia tidak salah dengar, Amara segera mengetuk pintu rumah seraya memanggil nama sang ibu. Tak menunggu lama, pintu rumah pun terbuka dan memperlihatkan wajah centil keponakannya di sana.
"Zeline, kenapa kau ada di sini?" Wajah Amara terlihat sedikit terkejut. Bagaimana tidak, Zeline berada di rumahnya secara tiba-tiba bahkan ia tak mendapatkan pesan dari Naina jika Zeline akan menginap di rumahnya malam ini.
"Bukan begitu, Sayang. Anty terkejut saja karena kau tiba-tiba ada di sini."
Zeline masih saja cemberut. Melihat itu membuat Amara merasa gemas hingga akhirnya mengecup kedua pipi Zeline secara berulang.
"Anty habis nangis?" Tanya Zeline dengan tatapan selidik. Ia dapat melihat dengan jelas kedua mata Amara yang nampak memerah seperti habis menangis.
"Ti-tidak." Amara berusaha berdusta namun tentu saja tidak membuat Zeline bisa percaya.
"Bohong, Anty habis menangis, kan? Ayo katakan pada Zel kenapa Anty menangis?" Zeline bertanya sedikit mendesak. Amara yang mendengarkannya pun segera membekap mulut keponakan centilnya itu.
"Diamlah. Jangan bicara kuat-kuat!" Tegur Amara.
Zeline memberontak agar Amara melepas dekapan tangannya di mulut Zeline. Dekapan tangan Amara pun akhirnya terlepas setelah Amara yakin jika Zel tidak akan bersuara dengan keras lagi.
"Sekarang ayo ikut Anty ke kamar!" Ajak Amara cepat pada Zeline.
Zeline menurut. Keduanya pun melangkah masuk ke dalam rumah. Setibanya di ruang tengah, Amara sejenak berbicara pada ayah dan ibunya yang sedang menonton acara di tv. Setelah cukup singkat berbincang, Amara pun segera masuk ke dalam kamarnya bersama dengan Zeline.
"Anty Mara?" Zeline menatap wajah Amara dengan tatapan menuntut. "Ayo katakan pada Zel hal apa yang sudah membuat Anty menangis?" Tanya Zeline.
***