Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Aku Memilihmu


"A-apa?" Amara tergugu. Ingusnya yang baru saja ingin keluar dari hidung jadi masuk kembali. "Kak Aga tidak menetap di luar negeri?" Tanyanya terbata.


Aga menggeleng menjawab pertanyaan Amara. "Hanya beberapa hari sampai permasalahan di perusahaan selesai." Jawabnya lembut sambil menahan senyum. Aga kembali mengusap air mata Amara yang masih saja mengalir dengan ibu jempolnya.


"Ta-tapi..." Amara mengalihkan pandangan pada Agatha yang nampak melongos saat ditatap olehnya. "Tapi Agatha bilang kalau Kakak mau menetap di sana..." Amara kembali menangis tersedu-sedu. "Agatha bilang Kakak entah kapan kembali lagi ke sini. Huu..." Amara tak kuasa menahan tangis. Sungguh, ia sangat takut akan kehilangan. Terlebih ia menyadari jika rasa cintanya pada Aga masih sangat lah besar.


"Agatha..." Aga menggelengkan kepala menahan adiknya yang juga melongos ditatap olehnya. "Jangan percaya kepada Agatha. Dia hanya bercanda. Aku tidak mungkin pergi jauh darimu dalam waktu lama tanpa memberi kabar padamu lebih dulu."


"Ja-jadi Agatha berbohong? Agatha menipuku?" Tanya Amara dengan mata berkedip-kedip basah.


Anggukan kepala Aga menjawab pertanyaan Amara. Jawaban yang diberikan Aga pun membuat Amara malu bukan kepalang. Ternyata sejak kemarin ia telah ditipu oleh Agatha. Dan lebih parahnya lagi, akibat tipuan Agatha membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Bahkan pagi ini ia tak mandi hanya karena ingin menyusul Aga.


"Agatha..." wajah Amara yang memerah karena menangis semakin merah padam sebab menangis.


"Ada apa ya, Amara?" Agatha menatap Amara dengan wajah tanpa dosa.


Pandangan Amara beralih pada Papa Andrew, Daniel dan Cakra yang menatapnya sambil menahan senyum.


"Aku malu..." Amara tak tahan dengan rasa malu yang ia rasakan saat ini. Terlebih beberapa orang yang masih memperhatikannya sejak tadi saling melempar senyum satu sama lain. Untuk menghilangkan rasa malu, Amara pun memeluk tubuh Aga kembali.


"Mara malu..." cicitnya dalam pelukan Aga. Suara gelak tawa pun terdengar dari sekitarnya.


Aga kembali mengusap kepala Amara kemudian melepaskannya. "Tidak perlu malu. Aku justru senang melihat sikapmu seperti ini. Aku jadi tahu ternyata kau sudah menyadari perasaanmu dan menerima lamaranku." 


"Kak Aga..." Amara tertunduk. Ia semakin merasa malu sebab tadi ia secara keras mengucapkan jika dirinya menerima lamaran Aga. Ingin sekali rasanya saat ini Amara kabur dari hadapan Aga untuk menghilangkan rasa malunya.


"Kenapa tertunduk gitu sih..." Aga mengangkat dagu Amara. "Ayo katakan lagi jika kau sudah menerima lamaranku." Pinta Aga.


Amara menggeleng malu. Melihat itu membuat Daniel gemas hingga ikut angkat suara.


"Amara, ayo katakan lagi jika kau sudah menerima lamaran Kak Aga. Jangan lama-lama loh nanti Kak Aganya keburu berangkat." Pesan Daniel.


Amara melihat waktu keberangkatan Aga akan tiba beberapa menit lagi. Dan Aga sudah harus pergi ke ruangan tunggu keberangkatan.


Di tengah rasa malunya, Amara mengangkat kepalanya. Menatap wajah Aga dengan tatapan sendu. "Kak Aga... Mara menerima lamaran Kakak dengan tulus. Mara telah memilih Kakak menjadi suami Mara karena Mara sungguh mencintai Kak Aga. Dan Mara sangat siap hidup bersama Kakak selamanya." Ucap Amara sambil meneteskan air mata.


***