Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Ajakan Rendra


Amara menatap wajah Agatha dengan ekspresi terkejut. "Gatha, kau ada di sini?" Tanya Amara sambil mengusap pipinya yang terasa basah.


"Ya, aku datang untuk menemuimu, Mara. Sekarang ayo jawab pertanyaanku, kenapa kau menangis?" Tanya Gatha dengan tatapan menuntut.


"Oh ini," Amara tertawa menyadari kecemasan Agatha saat ini. "Aku baru saja menonton video tiktok yang memperlihatkan kesedihan seorang ibu yang harus merima kenyataan jika anak yang sudah ia asuh sejak kecil ternyata bukan darah dagingnya."


Agatha terkesiap. Ia pikir hal yang membuat Amara menangis saat ini karena Rendra. Namun ternyata dugaannya salah. Amara menangis karena hal lain.


"Oh begitu. Aku juga sempat melihat berita viral itu. Memang sangat menyedihkan."


Amara mengangguk mengiyakan. "Sungguh


menyedihkan. Ternyata ujian itu datangnya bisa dari mana saja, ya."


"Ya, begitulah, Mara. Selagi kita masih hidup di dunia ini, kita pasti merasakan yang namanya ujian yang bertujuan untuk mendewasakan kita."


"Kau benar. Oh ya, ngomong-ngomong ada apa kau datang ke sini? Apa kau tidak bekerja?" Tanya Amara.


Agatha menggeleng lalu menjatuhkan bokong di kursi yang berhadapan dengan Amara. "Tidak. Aku datang ke sini untuk melihat keadaanmu, Mara."


"Melihat keadaanku? Untuk apa? Toh aku baik-baik saja." Wajah Amara nampak bingung.


"Hatimu sedang tidak baik-baik saja, Mara, dan aku tahu itu."


Amara tersenyum kaku seakan membenarkan jika perkataan Agatha benar adanya.


"Mara, apa sampai saat ini kau masih bersedih karena Rendra tak kunjung memberi kabar kepadamu?"


Amara hening beberapa saat. Sejujurnya ia bukan lagi merasa sedih namun sudah berusaha untuk ikhlas dengan sikap Rendra saat ini.


"Aku sudah tidak sesedih kemarin, Gatha. Kau tenang saja. Aku sudah ikhlas dengan perubahan sikap Rendra saat ini. Aku percaya dengan jalan takdir terbaik yang sudah Tuhan rencanakan untukku."


"Gatha, ada apa, apa kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku?" Tanya Amara karena melihat gelagat aneh Agatha yang seperti ragu untuk bersuara.


Agatha menganggukkan kepalanya. "Aku baru saja bertemu dengan Rendra, Mara." Beri tahunya.


"Apa?" Amara terkesiap. "Kau sudah bertemu dengan Rendra? Dimana?"


"Di perusahaannya. Aku sudah berbicara banyak hal dengannya. Dan setelah ini rencananya Rendra akan membicarakan sesuatu yang penting kepadamu."


"Tentang apa itu, Gatha?" Amara nampak penasaran.


"Biarkan Rendra yang menjawab semuanya, Mara. Aku hanya menyampaikan sedikit informasi saja."


Amara menghela napas dalam. Jika melihat gelagat Agatha saat ini, sepertinya ada suatu hal penting yang tidak bisa Agatha sampaikan kepadanya walau Agatha sangat ingin memberitahunya.


Suara notifikasi yang terdengar cukup keras dari ponsel Amara mengalihkan pandangan Amara ke sumber suara. Sebuah pesan masuk yang bertuliskan nama Rendra sebagai sang pengirim membuat Amara terkesiap.


"Rendra mengirimkan pesan kepadaku, Gatha!" Amara menunjukkan ponselnya ke wajah Agatha.


"Ayo cepat buka pesannya, Mara!" Agatha mendesak. Ia berharap jika Rendra akan menepati janji kepadanya tadi.


Amara mengangguk mengiyakannya lalu membuka pesan dari Rendra. Setelah selesai membaca deretan kata yang dikirim Rendra kepadanya, Amara pun menyampaikannya kepada Agatha.


"Rendra memintaku bertemu dengannya malam ini di taman dekat rumahku, Gatha." Beri tahu Amara.


"Baguslah kalau begitu. Kau harus menerima ajakannya itu Amara karena kau akan mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang ada di dalam benakmu saat ini."


***