Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Pelipur Lara Amara


Rasa sedih yang Amara rasakan terasa sedikit hilang karena kehadiran Zel di dekatnya. Amara berulang kali memeluk tubuh keponakan kesayangannya itu seraya mengungkapkan rasa sayangnya pada Zeline.


"Anty sudah tidak bersedih lagi kan?" Zeline bersuara setelah pelukan Amara terlepas dari tubuhnya.


"Sedikit. Anty akan mencoba ikhlas dan tidak bersedih lagi."


"Baguslah kalau begitu. Anty Zel tidak boleh sedih. Harus bahagia selalu."


Amara tersenyum seraya menganggukkan kepala. "Oh ya, ngomong-ngomong kapan Zel datang ke sini?" Tanya Amara yang sejak tadi belum mendapatkan jawaban tentang hal itu.


"Setelah Nenek dan Kakek makan malam, Anty. Tadi Mamah dan adik Ziko yang mengantarkan Zel ke sini."


"Memangnya kenapa Zel minta antar ke sini? Tumben sekali ke sini tidak bilang Anty dulu."


"Tidak ada. Zel cuma mau tidur di rumah Nenek saja. Besok kan Zel libur sekolah jadi Zel mau main sama Anty dan Nenek di rumah."


"Oh, begitu..."


"Iya, Anty. Oh ya, Anty, Zel mau nonton di luar lagi sama Nenek, ya. Anty istirahat saja di dalam kamar." Ucap Zeline.


Amara mengusap sayang rambut keponakannya itu. "Semakin hari kau semakin bersikap seperti orang dewasa saja. Jangan terlalu cepat dewasa ya centil. Anty lebih menyukaimu yang kecil, lucu dan menggemaskan."


Zel seketika menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa Zel tuh, Anty. Zel sudah besar tidak mau jadi anak kecil lagi. Zel kan sudah punya adik Ziko. Jadi adik Ziko saja yang kecil, Zel jangan."


Amara menggelengkan kepala mendengar jawaban keponakannya itu. "Terserah kau saja. Sekarang keluarlah, katanya mau nonton lagi sama Nenek."


"Ya deh, Zel keluar dulu. Dadah Anty tuh!" Zel segera turun dari atas ranjang lalu keluar dari dalam kamar Amara.


**


Jika wanita galau pada umumnya akan sulit memejamkan kedua kelopak matanya untuk tidur, namun berbeda dengan Amara. Wanita itu kini nampak sudah terlelap di atas ranjang sambil memeluk tubuh mungil keponakannya.


Amara dan Zeline nampak tertidur dengan saling berpelukan satu sama lain. Keberadaan Zeline di dekat Amara saat ini ternyata benar-benar menjadi obat penyembuh luka di hati Amara.


Hingga pagi sudah menjelang, Amara dan Zeline masih nampak betah tertidur dalam posisi berpelukan. Ibu yang hendak membangunkan putri dan cucunya pun tersenyum melihat putri dan cucunya tengah tertidur dengan saling berpelukan satu sama lain.


"Mara, Zeline, ayo bangun." Ibu menepuk pelan lengan Amara yang sedang melingkar di pinggang Zeline.


Merasa terganggu akibat pergerakan Ibu, membuat Amara akhirnya terjaga dari tidurnya.


"Ibu..." Amara mengucek kedua kelopak matanya untuk menyesuaikan pandangannya dengan sinar lampu kamar yang sudah dihidupkan oleh sang ibu.


"Mara, ayo bangun. Sudah pagi." Ucap Ibu lembut.


Amara tersenyum menatap wajah sang ibu yang selalu dapat mendamaikan hatinya setiap melihatnya. Pandangan Amara pun beralih pada Zeline, keponakannya itu nampak masih nyaman tertidur sambil memeluk perut Amara.


"Keponakan Anty yang centil..." Amara semakin mengembangkan senyum melihat wajah keponakannya. Amara bahkan sampai melupakan jika tadi malam ia tengah bersedih karena hubungan dan Rendra harus putus di tengah jalan sebelum mencapai puncak.


***


Follow instagram @shy1210 ya untuk sepurta info karya🤗