Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Kenapa Tidak Mengajakku?


"Kak Aga, Kak Anjani, kalau begitu aku duluan ke kamar." Pamit Amara setelah Aga dan Anjani selesai berbicara.


"Baiklah." Aga menjawab sementara Anjani hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Setelah kepergian Amara dan asisten Anjani, Aga pun mengajak Anjani untuk pergi ke sebuah coffe shop yang berada dekat dengan hotel. Setibanya di coffe shop, Aga mengajak Anjani duduk di lantai dua dan berada di balkon.


Anjani merasa sangat senang bisa berduaan dengan Aga seperti saat ini. Terlihat jelas di wajahnya yang terus tersenyum sejak mereka pergi meninggalkan hotel. Seorang pelayan datang menghampiri mereka seraya menyerahkan buku menu. Aga lantas saja menyebutkan menu minuman yang ia pesan sementara Anjani melihat menu yang tersedia lebih dulu.


"Kau tidak ingin minum kopi?" Tanya Anjani setelah kepergian pelayan.


"Tidak. Aku tidak ingin minum kopi malam ini."


Anjani mengangguk paham dan tak lagi mengeluarkan suara. Untuk sesaat, keheningan menyelimuti Aga dan Anjani. Aga menatap lurus ke depan melihat pemandangan jalanan yang nampak masih ramai sementara Anjani tengah menyusun kata memulai percakapan di antara mereka.


"Apa yang ingin kau bicarakan kepadaku?" Tanya Aga memecahkan keheningan di antara mereka.


Anjani menatap dalam kedua bola mata Aga yang tengah menatap wajahnya. "Apa kau tidak ingin berbicara lebih dulu? Bukankah kau juga ingin mengatakan sesuatu kepadaku?"


Aga menggelengkan kepala. "Duluan saja,"


"Baiklah." Anjani mengela napas sebelum bersuara. "Aga, kenapa tadi kau tidak mengajakku pergi bersama dengan Amara juga? Aku pikir kau akan mengajakku pergi keluar malam ini. Aku bahkan sudah menunggumu sejak pukul tujuh."


Aga menatap wajah Anjani dengan tatapan tanpa ekspresi. Ternyata dugaannya benar jika Anjani akan membicarakan tentang kepergiannya dan Amara tadi.


"Maaf, aku tidak tahu jika kau menungguku. Aku pergi bersama Amara ke kafe milik sahabat Daniel. Karena kita tidak membuat janji sebelumnya, jadi aku pikir hanya membawa Amara saja."


Anjani melipat bibir ke dalam. Bagaimana bisa Aga sampai tidak kepikiran untuk mengajaknya walau mereka belum membuat janji? Agh, sungguh menyebalkan sekali. Walau merasa sebal, namun Anjani tetap memperlihatkan wajah tersenyum.


Anjani mengangguk kemudian menggeleng. Melihat respon Anjani lantas saja membuat Aga bingung melihatnya. "Ada hal lain yang ingin aku tanyakan kepadamu."


Aga menaikkan sebelah alis tebalnya seakan bertanya, apa?


"Aku lihat akhir-akhir ini kau sangat perhatian pada Amara. Kau juga rela mengorbankan tubuhmu untuk menolong Amara."


"Lalu, apa yang salah?" Kerutan halus kini terdetak di dahi Aga.


"Tidak ada yang salah. Aku hanya berpikir jika hubungan kalian sedekat itu."


"Kau tahu bukan jika Amara adalah sahabat dari adikku dan adik dari istri Daniel. Sebagai seorang kakak, aku sudah menganggap Amara sebagai adikku sendiri. Sama seperti melindungi Agatha, aku juga akan melindungi Amara dalam bahaya."


Entah harus merasa senang atau cemas Anjani saat ini. Di satu sisi ia senang karena Aga hanya menganggap Amara sebagai seorang adik namun di sisi lain ia merasa cemas jika rasa sayang Aga bukanlah sekedar rasa sayang kakak pada adiknya. Namun rasa sayang pada seorang wanita.


"Oh, aku pikir kau menaruh hati kepadanya," Anjani akhirnya mengeluarkan pendapatnya.


Aga memilih diam tak memberi jawaban.


"Bukankah kau juga ingin mengatakan sesuatu kepadaku?" Tanya Anjani mengalihkan pembicaraan di antara mereka tentang Amara. 


"Apa kau sudah selesai berbicara? Jika ada yang masih ingin kau katakan maka katakan saja sebelum aku mengatakan sesuatu kepadamu."


"Sepertinya tidak ada. Katakan saja apa yang ingin kau sampaikan kepadaku."


***