
"Centil, kau ini bicara apa?" Amara melototkan kedua matanya pada Zeline yang terlihat jelas sangat menggodanya.
"Zel bilang Anty dan Om Aga janjian karena memakai warna baju dan celana yang sama."
Semakin melotot saja kedua kelopak mata Amara mendengar pengulangan kata dari Zeline. Pandangan Amara pun beralih pada Aga untuk memastikan kembali jika warna baju dan celana yang mereka pakai sama. Dan benar saja, Aga memakai baju bewarna putih dan celana kain bewarna latte sampa persis seperti yang ia kenakan saat ini.
"Amara, kau sudah sampai." Suara Naina memanggil nama Amara lantas saja membuat pandangan Aga beralih pada Amara.
Amara tersenyum lalu menyambut kedatangan Naina dengan pelukan. "Kakak cantik sekali malam ini." Puji Amara.
"Kau ini bisa saja." Naina menyematkan senyum.
Agatha yang baru keluar dari dalam dapur bersama Bu Fatma pun langsung menghampiri Amara dan memeluknya barang sejenak. "Ehm, sepertinya ada yang janjian, nih." Goda Agatha setelah menyadari kesamaan warna baju dan celana Aga dan Amara.
"Agatha..." Amara berucap pelan namun penuh penekanan.
"Baiklah, aku diam." Agatha memperagakan gerakan mengunci mulut.
"Ayo bergabung dengan yang lain, Mara, Agatha." Ajak Naina.
Amara dan Agatha mengangguk lalu melangkah bersamaan menuju ruang tengah dimana Daniel dan Aga kini tengah menatap kedatangan mereka dengan ekspresi berbeda. Jika Daniel menatap dengan ekspresi tersenyum, Aga justru memasang ekspresi datar.
Amara yang sudah mulai terbiasa mengabaikan keberadaan Aga pun lebih banyak berbicara dengan Agtha dan Naina. Sesekali Amara menyahut pertanyaan dari Daniel tentang kinerjanya di kantor Aga akhir-akhir ini.
Suara rengekan Zeline yang berasal dari depan rumah mengalihkan tatapan semua orang ke sumber suara.
"Papah, Papah..." Zeline berlari ke arah Daniel dengan wajah yang nampak memerah menahan tangis.
"Kakak Farhan dan Fahri mengejek Zel lagi, Pah." Adu Zeline lalu meneteskan air mata.
"Farhan... Fahri..." Dara yang baru saja turun dari atas tangga dan mendengar aduan Zeline menatap berang kedua anaknya yang datang dengan tatapan tak berdosa.
"Ada apa Mamah tuh?" Tanya Farhan dengan eskpresi bingungnya seolah tak mengerti kemarahan di wajah Dara saat ini.
Dara yang sudah menginjakkan kaki di lantai bawah lantas saja melangkah ke arah kedua anaknya lalu menjewer pelan telinga kedua putranya. "Apa yang sudah kalian lakukan pada adik kalian, hm? Kenapa Zel jadi menangis seperti ini?" Tanya Dara.
"Mamah lepas..." Fahri mencoba memberontak berharap dapat melepaskan jeweran tangan sang mama namun usahanya sia-sia karena Dara tak akan melepaskannya begitu saja.
"Anty, Kak Farhan dan Kak Fahri jahat sama Zel. Masa panggil Zel nutrizel." Adu Zeline dengan air mata buaya yang mengalir di kedua pipinya.
"Astaga kalian..." helaan napas dara terasa berat mendengar kedua putranya kembali membuat ulah pada keponakannya.
Zeline yang melihat kemarahan Dara pun menjulurkan lidah pada Farhan dan Fahri.
"Dara, sudah-sudah. Lepaskan tanganmu di telinga kedua cucu Papa." Papa Alexander pun datang menenangahi anak dan cucunya.
"Mama dengar itu, Kakek bilang lepaskan jeweran tangan Mama di telinga kami." Ucap Farhan.
"Kalian ini..." Dara melepas kedua tangannya di telinga kedua putranya sambil menahan gemas.
"Astaga... mereka berdua itu selalu saja membuat Zel menangis." Komentar Amara menahan tawa sambil menatap Farhan dan Fahri.
***