
Amara mengangguk mengiyakan permintaan wanita itu. Walau perkataan Sisil dan Ane beberapa waktu lalu sangat menyakiti hatinya, namun Amara tak menyimpan dendam pada mereka. Amara sudah tulus memaafkan mereka.
Keluar dari dalam lift, Amara langsung saja melangkah ke arah ruangan Cakra. Amara ingin menghampiri Cakra yang ia ketahui sudah berada di dalam ruangan kerjanya saat ini dan memastikan apakah Sisil dan Ane benar sudah dipecat dari perusahaan.
"Apa, jadi Tuan Aga benar memecat mereka." Ucap Amara setelah mendapatkan jawaban dari Cakra.
"Benar, Amara. Kenapa kau mempertanyakan tentang mereka? Mereka kan sudah berbuat buruk kepadamu." Ucap Cakra.
"Walau pun mereka sudah berbuat buruk kepadaku, tapi aku tak mau menyimpan dendam pada mereka. Aku sudah tulus memaafkan mereka dan tak ingin muncul masalah baru hanya karena aku."
"Apa yang terjadi pada mereka saat ini adalah resiko yang harus mereka tanggung karena perbuatan mereka sendiri. Sebagai karyawan yang bekerja di perusahaan ini, tak seharusnya mereka bersikap lancang dengan menggunjing kerabat dari pemilik perusahaan! Mereka dibayar di sini untuk bekerja bukan untuk menggunjing." Ucap Cakra tegas berniat menyadarkan Amara jika apa yang dilakukan Sisil dan Ane salah.
Amara mengerti maksud perkataan Cakra. Namun hati naruninya tetap saja tak tega. "Walau pun begitu, saya tetap tidak setuju dengan keputusan Tuan Aga. Setidaknya Tuan Aga memberikan mereka surat peringatan lebih dulu sebelum memecat mereka. Dan harus Tuan Cakra tahu jika Sisil saat ini sangat membutuhkan pekerjaan untuk membiayai ibunya yang sakit. Sebagai sesama manusia, saya tak tega membiarkannya dipecat hanya karena saya dalam kondisinya yang sulit seperti saat ini."
"Tapi jika dia tahu masih membutuhkan pekerjaan di sini, seharusnya dia pandai dalam menjaga mulutnya dengan baik dan fokus untuk bekerja saja!" Sanggah Cakra.
Amara menggelengkan kepalanya. Kemudian ia memilih berpamitan pergi karena ia tahu Cakra tak sejalan dengannya saat ini.
"Sisil, Ane, maafkan aku karena masalah di antara kita membuat kalian jadi dipecat seperti saat ini." Lirih Amara dalam hati setelah keluar dari dalam ruangan Cakra.
**
"Amara," Agatha yang sudah berada di parkiran rumah sakit lebih dulu menghampiri Amara yang baru saja keluar dari dalam mobilnya.
"Gatha, kau sudah sampai?"
Agatha mengangguk. "Sekarang katakan kepadaku, untuk apa kau membawaku ke sini? Memangnya siapa yang ingin kita jenguk?" Tanya Agatha.
"Kau akan tahu jawabannya nanti. Sekarang ayo ikut aku masuk ke dalam." Ajak Amara.
Agatha menghela napas. Sejak tadi ia sudah sangat penasaran siapakah orang yang ingin Amara jenguk saat ini. Dan setelah bertemu dengan Amara, bukannya mendapatkan jawaban, Agatha justru disuruh mencari jawabannya sendiri.
Setelah berada di lantai khusus ruangan perawatan pasien, Amara melangkah ke arah ruangan yang ia yakini adalah ruangan seseorang yang ingin ia kunjungi saat ini.
Agatha yang merasa penasaran terus mengikuti langkah Amara hingga akhirnya masuk ke dalam ruangan perawatan yang Amara tuju.
"Amara?" Salah satu sosok yang berada di dalam ruangan perawatan dibuat terkesiap melihat kedatangan Amara saat ini.
***