
Belum hilang rasa sakit di hatinya mendengar perkataan rekan kerjanya saat berada di dalam lift, kini Amara sudah kembali dibuat sakit hati dan menghela napas dalam-dalam mendengar bisik-bisik karyawan fans berat Aga menuduhnya dan Naina bermain guna-guna untuk bisa menarik perhatian Daniel dan Aga.
"Kalian lihat saja kakaknya itu. Selain menggunakan guna-guna untuk menarik hati Tuan Daniel, dia juga menggunakan tubuhnya untuk mengikat Tuan Daniel. Buktinya saja dia dan Tuan Daniel menikah karena kehadiran seorang anak yang katanya adalah anak Tuan Daniel.
Telinga Amara terasa panas mendengarnya. Amara pun melangkah dengan cepat ke arah wanita yang sudah menuduh kakaknya yang bukan-bukan lalu menamparnya.
"Jaga perkataanmu itu! Kau boleh menghinaku tapi jangan hina keluargaku!" Sentak Amara.
Kegaduhan yang Amara buat pun akhirnya membuat perhatian orang-orang tertuju kepadanya. "Kenapa? Kau iri karena aku dan kakakku bisa mendapatkan pemilik perusahaan? Jika kau iri maka buktikan kau juga bisa mendapatkan pemilik perusahaan tanpa menuduh jika kami menjual diri!"
Amara sungguh dibuat marah. Amarahnya meledak-ledak mendengar kakaknya dituduh yang bukan-bukan. Terlebih ia sangat mengetahui jalan cerita hidup kakaknya hingga akhirnya melahirkan darah daging Daniel.
"Kau! Berani sekali kau menamparku!" Wanita yang tadi menggunjing Amara nampak geram. Amara tahu ia adalah salah satu fans fanatik Aga yang tadi sempat menggunjingnya juga di dalam grup lambe turah.
"Kenapa tidak berani? Membunuhmu saja aku berani karena kau sudah memfitnah keluargaku!" Pekik Amara lagi. Nafasnya terdengar terengah-engah. Pun dengan wajahnya yang sudah memerah menahan amarah yang sudah memuncak.
"Fitnah? Siapa yang memfitnahmu? Apa yang aku katakan itu benar, kan? Tidak mungkin wanita seperti dirimu dan kakakmu bisa mendapatkan pemilik perusahaan yang berbeda kasta dengan kalian. Sungguh tidak pantas!" Wanita itu balik berkata keras. Ia tak peduli jika aksinya itu membuat Amara marah. Menurutnya, dengan pangkat yang ia miliki saat ini tak akan membuatnya kalah dari wanita seperti Amara.
"Lalu kenapa jika kasta kami berbeda? Apa urusannya dengamu? Apa kehidupan kami merugikan dirimu!" Amara mendorong wanita itu hingga wanita mundur beberapa langkah.
Melihat keadaan sudah tak kondusif, beberapa karyawan yang berada di dalam lobby pun berusaha melerai Amara dan wanita itu.
"Ada apa ini?" Cakra menatap kerumunan karyawan yang berada di dalam lobby. Ia baru saja keluar dari dalam lift dan mendengar keributan di dalam lobby.
"Tidak ada apa-apa, Tuan." Beberapa karyawan yang merasa takut dengan Cakra memilih untuk bubar. Mereka tidak ingin berurusan dengan Cakra atau akan merusak repurtasi kerja mereka.
Wanita yang tadi menghina Amara pun ikut pergi meninggalkan lobby. Melihat kepergian mereka membuat Cakra menghela napas. "Ada apa lagi sih. Beberapa hari ini mereka sering sekali ribut di sini." Cakra bergumam. Kemudian melanjutkan langkah keluar dari dalam perusahaan.
Beberapa menit berlalu...
Amara kini sudah berada di dalam rumahnya. Orang pertama yang ia cari setelah masuk ke dalam rumah adalah ibunya. Melihat keberadaan ibunya di dalam dapur membuat Amara segera menghampirinya dan memeluk ibunya erat-erat sambil menangis.
"Mara, ada apa ini?" Ibu nampak cemas. Bagaimana tidak, putrinya baru saja pulang dari bekerja dan tiba-tiba saja menangis di dalam pelukannya.
Hikss
Amara tak menjawab. Ia justru semakin menangis tersedu-sedu.
***