
"Jangan percaya, Mara. Karena Kak Aga tidak mungkin akan membawamu pergi jika dia ingin pergi ke kamar mandi." Celetuk Daniel menyahut perkataan Aga.
Senyuman di wajah Amara pun luntur setelah mendengar perkataan Daniel.
Naina yang ikut mendengarkannya pun memukul lengan suaminya karena Daniel sudah berkata benar dan membuyarkan rasa senang Amara.
"Kau ini..." ucap Naina dengan kedua mata melotot.
"Kau ini apa? Kalau bicara suka benar. Begitu kan?" Tambah Daniel.
Naina jadi menahan tawa. Sementara Aga menggelengkan kepala karena sepupunya itu sudah merusak acara romantisnya bersama dengan Amara.
"Kak Daniel benar juga. Kakak tidak mungkin membawaku jika mau pergi ke kamar mandi." Ucap Amara dengan bibir mengerucut.
"Siapa bilang? Aku akan membawamu jika aku ingin mandi. Bukan hanya membawa, aku juga akan mengajakmu mandi bersama."
Kedua pipi Amara jadi merona mendengar perkataan Aga yang terdengar manis dan sedikit mesum.
Daniel yang ingin menyahut kembali mengurungkan niat sebab Naina sudah mencubit pinggangnya sebagai peringatan agar tidak mengacaukan keromantisan Aga dan Amara.
"Kan tidak mungkin Kak Aga tetap membawa Amara jika dia mau pun kan sayang?" Tanya Daniel pelan pada Naina.
"Iya benar. Tapi tidak perlu mengatakannya juga. Biarkan saja Kak Aga bermanis-manisan dengan Amara!" Jawab Naina dengan tatapan berubah datar.
Daniel menjadi takut melihat tatapan istrinya itu. "Baiklah, dari pada mengganggu mereka, lebih baik kita ke kamar saja." Ajak Daniel. Dari pada terkena amukan Naina, ia lebih baik memilih untuk kabur.
Naina menyetujuinya kemudian mengajak Daniel melangkah pergi sambil menggendong tubuh Ziko.
Melihat kepergian Daniel dan Naina membuat Aga merasa memiliki kesempatan untuk memeluk tubuh Amara kembali.
"Aku juga rindu." Aga mengusap kepala Amara. "Setelah ini aku akan mengatur waktu dengan Papa untuk pergi ke rumah orang tuamu."
Amara melebarkan kedua kelopak matanya. Mendongak agar dapat melihat wajah tampan Aga.
"Benarkah begitu, Kak?" Tanyanya.
"Ya. Bukankah sudah aku katakan sebelumnya jika aku akan melamarmu setelah aku pulang dari luar negeri?"
Amara menganggukkan kepala. Ia takkan lupa dengan janji Aga saat itu.
"Dan sekaranglah saatnya. Aku sudah mendapatkan obat agar tak ada lagi rasa rindu di antara kita. Yaitu dengan menikahimu."
Kedua bola mata Amara berkaca-kaca setelah mendengarnya. Ia memeluk erat tubuh Aga menyalurkan rasa bahagia dan haru di dalam hatinya.
"Terima kasih, Kak Aga. Terima kasih telah mau memberikan sesuatu yang terbaik untukku."
"Tidak perlu berterima kasih. Apa yang aku lakukan kepadamu saat ini adalah kewajiban yang harus aku lakukan untuk membahagiakan wanita pujaan hatiku."
Amara tak kuasa menahan haru. Ia semakin memeluk erat tubuh Aga. Tidak ia sangka jika pengorbanan dan perjuangannya selama ini akan berakhir dengan manis. Pria yang sudah enam tahun ini mengisi hatinya akhirnya membalas perasaannya dan sebentar lagi akan melamarnya untuk menjadi istrinya.
"Apakah saat ini aku sedang memetik hasil dari kesabaran dan ketulusanku selama ini?" Gumam Amara dalam hati. Tanpa terasa kedua matanya melelehkan cairan bening.
Aga yang melihat air mata mengalir di pipi Amara pun segera mengusapnya. "Jangan menangis lagi. Mulai saat ini kau harus selalu tersenyum bersamaku." Pinta Aga lembut.
***