
Amara dan Aga kini telah duduk di kursi yang berada di dalam studio. Sejak masuk ke dalam
studio sampai duduk di atas kursi, Amara tak sedikit pun mengeluarkan suara. Ia masih merasa sedikit canggung karena usapan tangan Aga secara tiba-tiba di kepalanya tadi.
Aga pun turut tak mengeluarkan suara karena pandangannya kini fokus pada layar ponselnya yang memperlihatkan pesan masuk dari Daniel.
Untuk waktu beberapa saat, Aga berbalas pesan dengan adik sepupunya itu. Setelahnya ia kembali fokus pada Amara yang kini duduk di sebelahnya.
"Ayo dimakan popcornya." Ucap Aga sambil menatap box popcorn yang berada di tangan Amara.
Amara menganggukkan kepalanya kemudian mengambil popcorn dari wadahnya. "Kak Aga mau?" Tawarnya sambil menyerahkan popcorn pada Aga.
"Mau. Tapi yang di tanganmu saja." Jawab Aga.
Kerutan halus nampak terbit di dahi Amara setelah mendengar jawaban Aga. "Maksudnya bagaimana ya, Kak?" Tanya Amara bingung.
"Maksudnya aku mau kau saja yang mengambilkan popcornnya untukku."
Deg
Amara tertegun mendengar jawaban Aga. Semburat merah mulai terasa muncul di kedua pipinya membayangkan jika dirinya menyuapkan popcorn ke dalam mulut Aga.
"Kak Aga ambil saja sendiri." Amara segera menyerahkan box popcornnya pada Aga. Rasanya ia tak ingin menyuapkan Aga karena hanya akan memperlihatkan kegugupannya di mata Aga.
Aga mengulum senyum menyembunyikan smirk yang hampir tercetak di sudut bibirnya. Ia tak menerima boc popcorn yang diberikan Amara justru mendorongnya lagi pada Amara. "Aku hanya bercanda. Jangan terlalu serius seperti itu."
Amara menundukkan pandangan. Menyembunyikan kemerahan di kedua pipinya yang mungkin dapat dilihat oleh mata Aga.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya film pun mulai diputar. Suasana studio yang sudah berubah gelap gulita membuat Aga tak bisa lagi menatap wajah Amara dengan jelas begitu pula sebaliknya.
Deg
"Kenapa?" Aga berbisik di telinga Amara saat merasakan pergerakan dari wanita itu.
"Aku tidak apa-apa, Kak." Cicit Amara.
Aga belum menjauhkan mulut dari kuping Amara seakan masih ingin berbicara dengan Amara. "Kau tidak takut menonton film horor bukan?" Tanya Aga.
"Tentu saja ti—" baru saja Amara ingin berdusta, sebelah tangannya sudah bereaksi memegang lengan Aga saat melihat sosok hantu yang tadi dilihatnya kembali muncul.
Aga mengulum senyum. Menahan rasa ingin meledakkan tawa melihat ketakutan Amara saat ini. Amara yang menyadari jika tangannya sedang memegang lengan Aga segera melepaskannya. Untung sana box popcorn yang berada di pangkuannya tidak terjatuh akibat pergerakannya itu.
"Kenapa dilepas? Jika takut peluk saja lenganku." Ucap Aga.
Kedua pipi Amara terasa panas setelah mendengarnya. Amara pun mencoba bersikap tenang agar Aga tak menyadari jika dirinya sedang salah tingkah saat ini.
Amara memilih tak menjawab perkataan Aga. Ia kembali fokus menonton film yang sedang tayang di depannya sambil menahan rasa takut.
Lima menit, sepuluh menit hingga akhirnya tiga puluh menit film berjalan, Amara masih mencoba menahan rasa takutnya. Namun saat film sudah berada di puncak cerita, Amara tak lagi dapat menahan rasa takutnya. Ia memeluk erat lengan Aga sambil memicingkan kedua matanya setelah melihat adegan pembunuhan yang sedang dilakukan oleh sosok hantu yang tadi ia lihat di awal cerita.
"Tadi ada yang bilang tidak takut film horor, loh." Bisik Aga pada Amara yang sedang ketakutan.
***
Sudah selesai uwu-uwuannya ya😜
Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴