
Tak lama setelah setelah akad selesai dibacakan, Okta nampak keluar dari dalam sebuah kamar dan melangkah ke arah Rendra berada dengan didampingi dua orang wanita.
Jika pria lain akan menatap kedatangan wanitanya dengan senyuman indah di wajahnya, Rendra justru sebaliknya. Ia hanya menatap datar wajah Okta seolah status mereka saat ini tidak berarti apa-apa untuknya.
Amara dan Agatha yang melihatnya dari jauh kembali saling pandang. Keduanya menghela napas bersamaan kemudian menghembuskannya dengan perlahan di udara.
"Semoga rumah tangga mereka berjalan baik-baik saja." Harap Agatha.
Amara mengaminkannya. Terlepas bagaimana caranya Rendra bisa menikah dengan Okta, sebagai seorang suami, Rendra harus sudah mengerti dengan kewajibannya saat ini. Terlebih pernikhan bukanlah hal yang main-main.
Serangkaian acara pagi itu terus berlangsung. Okta dan Rendra yang sudah selesai menandatangani buki nikah diminta untuk melakukan foto bersama. Para tamu undangan yang datang pun mengantri untuk bergantian untuk berfoto dengan pasangan pengantin.
"Mau foto juga?" Tawar Aga pada Amara yang hanya menatap pergerakan orang-orang di depannya tanpa berniat untuk ikut mengantri.
"Boleh," Amara menyematkan senyum. Aga pun kemudian bangkit diikuti oleh Agatha.
"Papah, ayo kita foto dengan Rendra." Ajak Agatha pada Papa Andrew.
"Kalian saja. Papa kan sudah tua. Tidak payah foto-foto."
"Papah ini..." bibir Agatha mengerucut dan hanya dibalas dengan senyuman oleh Papa Andrew.
Agatha, Amara dan Aga pun akhirnya berdiri di dekat orang-orang yang ingin berfoto bersama pengantin. Hingga akhirnya tibalah giliran ketiganya. Mereka pun mendekat pada pengantin dan mengucapkan selamat lebih dulu.
Melihat Amara yang kini berada tepat di hadapannya membuat Rendra tak bisa mengontrol suasana hatinya. Ia tak melepaskan jabatan tangan Amara dan menatap wajah Amara dengan sendu.
Ehm
Deheman Aga yang terdengar cukup kerasa seketika melepaskan tangan Rendra dari Amara.
Singkat waktu, ketiganya pun telah selesai berfoto. Mereka segera meninggalkan Rendra dan istrinya dan kembali berkumpul dengan Papa Andrew.
"Amara, maafkan aku. Seharusnya kau yang berdiri di sebelahku saat ini bukan Okta." Ucap Rendra dalam hati.
Ibu Rendra yang sejak tadi memperhatikan arah pandangan putranya terus tertuju pada Amara segera menghampiri Rendra. "Rendra, jangan menatap ke arah lain. Fokuslah pada istrimu sendiri!" Perintah Ibu Rendra. Ia tak ingin membuat Okta jadi sakit hati karena perbuatan putranya.
Rendra hanya diam tanpa berniat menjawab perkataan sang mama. Okta yang berdiri di sebelahnya pun tersenyum pada Ibu Rendra.
"Tidak masalah, Ma." Ucapnya meyakinkan jika hatinya baik-baik saja.
Ibu Rendra tak membalas senyumannya. Ia tahu jika Okta tengah tersenyum dalam luka saat ini.
Tak berada jauh dari mereka berada, Agatha memperhatikan interaksi ketiganya. Walau tak dapat mendengar dengan jelas perkataan ibu dari Rendra, namun Agatha dapat mengetahui apa yang Ibu Rendra katakan lewat gerakan mulutnya.
Tak ingin lagi memperhatikan interaksi ketiganya, Agatha pun kembali fokus pada Amara dan Aga.
"Amara, Kak Aga, apa kalian tidak mau foto bersama. Sayang sekali loh sudah pakai baju couple seperti ini tidak diabadikan."
"Kau benar. Sekarang ayo fotokan kami." Aga segera menyodorkan ponsel pada Agatha.
Agatha menerimanya. Kemudian memfoto Amara dan Aga dan tak lupa mengarahkan posisi kedunya.
"Amara, ayo dekat lagi dengan Kakakku. Jangan seperti pasangan yang sedang bertengkar!" Ucap Agatha sambil menggoyangkan sebelah tangannya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴