Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Selalu Terpesona


Keheningan menyelimuti Amara dan Aga setelah Aga mengungkapkan permintaannya pada Amara. Amara tak bisa langsung memberikan jawaban pada Aga. Ia membutuhkan waktu untuk berpikir. Setelah cukup lama berpikir dan menimbang-nimbang akhirnya Amara pun mengangkat kepalanya yang tertunduk hingga ia kembali menatap wajah Aga.


"Aku mengizinkannya, Kak." Jawaban yang Amara berikan membuat Aga mengulas senyum. Ia nampak lega karena Amara memberikan jawaban sesuai dengan yang ia harapkan.


"Terima kasih. Semoga saja usahaku akan membuahkan hasil yang baik."


Amara hanya tersenyum. Ia tak berharap terlalu banyak. Takut kembali terluka. Anggaplah Amara terlalu lebay dan menarik ulur hati Aga. Namun ia hanya ingin meyakinkan dirinya jika pantas untuk dicintai mengingat perjalanan cintanya yang selalu berujung tragis.


"Kalau begitu aku pamit pulang dulu. Tidak enak berada di sini terlalu lama karena Paman dan Bibi sedang tidak ada." Pamit Aga.


Amara mengangguk mengiyakannya. Kemudian ia pun bangkit untuk mengantarkan Aga sampai ke depan rumah.


"Hati-hati di jalan, Kak. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menemaniku hari ini."


Aga mengulas senyum tipis. "Sama-sama. Kau juga hati-hati di rumah sendiri."


Amara jadi takut mendengar pesan Aga karena berada di rumah seorang diri adalah hal yang selalu dihindari oleh Amara.


"Iya." Amara menjawab diikuti anggukan di kepala.


Aga akhirnya melangkah ke arah mobilnya berada kemudian masuk ke dalam mobil. Amara pun masih berdiri di depan rumah menatap kepergian mobil Aga.


"Kak Aga, kenapa baru sekarang Kakak menyadari perasaan Kakak kepadaku. Kenapa tidak dari dulu saja di saat aku sudah yakin untuk menjatuhkan hati pada Kakak." Lirih Amara.


Setelah mobil milik Aga tak lagi terlihat di pandangannya, Amara pun segera melangkah masuk ke dalam rumah dan tak lupa mengunci pintu. Ia bergegas menuju kamar untuk mengganti pakaian yang ia kenakan saat ini dengan pakaian rumah. Setelahnya Amara pun membaringkan tubuh di atas ranjang sambil memikirkan permintaan Aga.


Rendra... mengingat nama pria itu membuat wajah Amara kembali sendu. "Sudahi patah hatimu, Amara. Rendra sudah menikah dan kau tidak boleh memikirkannya lagi. Untuk segala janji yang ia ucapkan kepadamu waktu itu, anggap saja itu adalah sebuah candaan yang tidak mungkin akan terjadi."


Amara menguatkan diri agar tak lagi bersedih. Ia tak boleh lagi memikirkan Rendra yang statusnya sudah berubah menjadi suami wanita lain. Untuk saat ini ia harus menjalani hidup yang lebih baik tanpa berharap apa pun pada orang lain.


"Salahku juga karena terlalu berharap kepadanya." Ucap Amara menyalahkan dirinya. Karena patah hati dengan Aga membuat Amara jadi tidak bisa berpikir panjang. Menjadikan Rendra layaknya pelampiasan untuk menghilangkan rasa cinta di hatinya pada Aga.


Ting


Suara notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya mengalihkan pandangan Amara pada ponselnya yang berada di samping bantal. Amara segera meraih ponselnya dan membuka pesan masuk dari Agatha.


"Cie, romantis sekali calon kakak iparku dengan kakakku ini." Tulisan Agatha di bawah sebuah foto yang baru saja ia kirimkan pada Amara.


Amara tanpa sadar mengulas senyum. Jari jempolnya yang berada di atas layar pun tanpa sadar terusap mengusap wajah Aga yang terlihat sangat tampan di foto tersebut.


"Kak Aga, kenapa wajahmu ini tidak bisa jelek sedikit saja. Kau selalu berhasil membuat aku jadi terpesona." Gumam Amara.


***


Iya, iya, bentar lagi diterima deh cintanya Aga🫠


Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴