
Agatha nampak terperangah setelah mendengarkan seluruh cerita Rendra. Hanya mendengar cerita dari Rendra saja dapat membuat Agatha mengerti jika Rendra dalam kondisi sulit saat ini.
"Jadi setelah satu minggu mendapatkan perawatan di rumah sakit Ibu yang ditabrak oleh Tante meninggal dan anaknya tidak menuntut apa-apa kepada Tante?" Agatha mengulang sedikit cerita dari Rendra.
Rendra menganggukkan kepalanya. "Okta bahkan tidak menuntut ganti rugi apa pun. Dia memaafkan Mama dengan tulus."
Agatha menghela napas dalam-dalam. "Bukankah masih banyak cara lain untuk bertanggung jawab padanya selain menikahimu dengannya, Rendra?"
Wajah Rendra nampak frustrasi. "Sayangnya tidak, Gatha. Ibu dari Okta menitipkan pesan pada Mama agar bisa menjaga Okta dengan baik jika Tuhan tak lagi memberikannya waktu untuk hidup. Dan hanya ada satu cara bagi Mama untuk mengabulkan permintaan Ibu dari Okta, yaitu menikahkan Okta denganku."
"Lalu kau akan menerimanya begitu saja?" Agatha dengan cepat menyahut.
"Awalnya tidak, namun dengan terpaksa aku menerima. Aku tidak bisa menentang perintah dari Mama karena Mama sangat frustrasi setelah kepergian Ibu Okta."
Agatha dibuat bungkam. Cinta pertama Rendra saat ini adalah ibunya. Dan Agatha tahu jelas bagaimana sayangnya Rendra pada sang mama. Melihat kondisi sang mama yang sangat frustrasi akibat rasa bersalah setelah kepergian wanita yang ditabraknya, pasti lah membuat Rendra tak tega.
"Aku sangat mencintai Amara, Gatha. Aku tidak ingin membuatnya terluka jika mengetahui aku akan menikah dengan wanita lain. Maka dari itu lah aku menghilang tanpa kabar. Aku berharap Amara akan kecewa dan benci kepadaku karena sikap pecundangku ini." Ungkap Rendra.
Agatha kembali menghela napas dalam-dalam. Tidak bisa menyalahkan Rendra sepenuhnya dan tidak bisa menyalahkan Ibu dari Rendra juga karena Agatha tahu bagaimana rasanya merasa bersalah yang mendalam terhadap seseorang.
"Tapi sikapmu saat ini jauh lebih membuat Amara terluka, Rendra. Kau sangat pecundang tidak mau mengatakan yang sejujurnya pada Amara. Jika kau berkata jujur pada Amara, Amara mungkin bisa mengerti walau merasa kecewa."
"Kau harus sanggup, Rendra! Jujurlah walau kejujuranmu terdengar menyakitkan!"
Rendra menghela napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan ke udara.
Agatha kembali meyakinkan Rendra untuk bisa berkata jujur pada Amara. Jika diperlukan, Agatha siap menemani Rendra untuk berbicara dengan Amara. Agatha yakin Amara dapat mengerti keputusan yang Rendra ambil saat ini.
"Mara, aku harap kau tidak akan trauma untuk mencintai seorang pria lagi." Ucap Agatha penuh harap. Sudah dua kali menaruh rasa pada seorang pria, hati Amara selalu saja berujung patah. Agatha sangat sedih dengan nasib percintaan sahabat baiknya itu.
Agatha pun akhirnya memperlihatkan pada Rendra foto yang sempat ia ambil beberapa waktu lalu. Rendra yang melihatnya dibuat terkejut melihat fotonya yang sedang berada di dalam mobil bersama dengan Okta.
"Apa wanita yang sedang bersamamu ini yang bernama Okta?" Tanya Agatha memastikan.
Rendra mengangguk pelan. "Ya, dia adalah Okta. Bagaimana kau bisa mendapatkan foto ini?"
"Tentu saja karena saat itu mobilku bersebelahan dengan mobilmu. Aku mengambilnya setelah kau membayar tisu pada pejual asongan."
Rendra teringat saat ia membeli tisu pada seorang anak kecil saat itu. "Apa saat itu kau sedang bersama Amara?" Rendra merasa awas. Takut Amara juga melihatnya bersama wanita bernama Okta.
***