Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Sulit Untuk Dipahami


Aga kembali termenung menatap langit-langit kamarnya setelah kepergian Agatha. Perkataan Agatha beberapa menit yang lalu berhasil mengusik pemikirannya hingga membuat Aga tidak bisa memejamkan kedua kelopak matanya untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya barang beberapa saat.


"Cinta?" Lirih Aga mengingat sebuah kata yang keluar dari mulut Agatha.


Setelah melepaskan Naina untuk Daniel beberapa tahun yang lalu, Aga tak lagi mengenal apa itu cinta. Aga bahkan tak berminat untuk dekat dengan wanita mana pun. Ia memilih fokus pada pekerjaannya hingga tanpa terasa sudah lima tahun lebih lamanya Aga tak lagi merasakan apa itu cinta dan berdekatan dengan seorang wanita.


Dan untuk Amara, selama ini Aga hanya merasakan jika dirinya menganggap Amara sebagai adik kandungnya sendiri sama seperti ia menganggap Agatha. Tidak ada perasaan lain yang Aga rasakan pada Amara selain itu.


Namun, sebuah pernyataan jika Amara mencintainya saat itu berhasil mengejutkan Aga. Ia tidak pernah menyangka jika Amara justru menganggapnya sebagai seorang pria bukan sebagai seorang Kakak seperti Agatha menganggap dirinya.


Berjalannya waktu, Aga mencoba menjaga jarak dengan Amara agar menyadarkan Amara jika dirinya tak bisa membalas perasaan Amara. Dan apa yang Aga inginkan akhirnya terwujud setelah kehadiran Anjani ke dalam hidupnya.


Namun, suatu hal tak terduga terjadi, Aga tanpa sadar tidak menyadari jika dirinya merasa merindukan masa saat Amara mencoba mendekatinya dan meraih cintanya setelah Amara menunjukkan perubahan sikap pada dirinya.


Terlebih dari itu, Aga merasakan dadanya bergemuruh saat melihat Amara berduaan dengan pria lain. Terlebih pria tersebut telah terang-terangan menyatakan cinta pada Amara. Dan kini, rasa sesak entah karena apa Aga rasakan melihat Amara dekat dengan pria tersebut dan mencoba menjalin sebuah hubungan dengannya.


Aga mencoba memahami isi hatinya saat ini. Semakin ia mencoba memahaminya, semakin bingung saja Aga mengartikan isi hatinya saat ini. "Huh, semua terasa membingungkan." Gumamnya setelah lelah berpikir.


**


Tepat pukul tiga sore, Agatha melajukan mobil sport bewarna merah milik Aga keluar dari pekarangan rumahnya. Agatha melajukan mobil dengan senyuman merekah di wajah cantiknya karena pada akhirnya ia bisa merasakan membawa mobil sport milik Aga.


"Semoga saja untuk selanjutnya Kak Aga masih mau meminjamkan mobilnya untukku." Harap Agatha.


"Agh, tidak asik sekali. Seharusnya Kak Naina dan anak-anaknya masih berada di sini. Aku kan sudah rindu pada mereka." Gumam Agatha sambil keluar dari dalam mobil.


Agatha yang hendak mengetuk pintu rumah mengurungkan niatnya saat pintu sudah terbuka lebih dulu dari dalam.


"Agatha." Senyuman di wajah Bu Fatma menyambut kedatangan Agatha.


"Bibi," Agatha segera mengulurkan tangan hendak menyalami Bu Fatma. "Amaranya ada Bibi?" Tanyanya setelah jabatan tangan keduanya terlepas.


"Ada. Tapi Maranya masih tidur. Sepertinya kelelahan sekali setelah pulang dari kota B."


"Wah, pantas saja Mara tidak membalas pesan dari Gatha." Agatha menggelengkan kepalanya.


Bu Fatma mengembangkan senyum. "Iya, kalau begitu ayo masuk dulu. Tadi Amara berpesan langsung masuk saja ke kamarnya jika Nak Gatha sudah sampai."


Agatha mengangguk mengiyakannya lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


***


Lanjut?