
Amara dibuat tak dapat berkata-kata setelah
mendengarkan perkataan Aga. "Kenapa diam?" Tanya Aga karena tak mendapatkan jawaban.
"Kak Aga kan sudah melihat sendiri alasanku memilih pulang dengan Rendra. Aku rasa apa yang Kakak lihat tadi sudah menjawab pertanyaan yang Kakak tanyakan saat ini."
"Baiklah kalau begitu." Aga menjawab singkat dan berhasil membuat Amara bingung harus menjawab apa lagi.
Panggilan telefon pun terputus setelah Aga menutup percakapan di antara mereka. Amara menatap layar ponselnya yang menyala dengan kerutan halus di dahinya. "Menyesal aku menelfonnya. Tahu begini mending tidak usah ditelfon saja." Gumam Amara.
Merasa tugasnya sudah selesai meminta maaf pada Aga dan mengungkapkan rasa tidak enak hatinya, Amara pun berusaha melupakannya dan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah.
**
Di sebuah kamar yang didominasi warna abu-abu, Aga menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan nanar. Beberapa kali bayangan Amara pulang bersama Rendra terlintas di benaknya. Dan bayangan itu benar-benar mengganggu pemikirannya.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu yang terdengar dari luar membuyarkan lamunan Aga. Ia segera menyahut. Meminta seseorang yang sedang mengetuk pintu dari luar untuk masuk.
Kepala Agatha nampak menyembul dari pintu yang baru saja ia buka dari luar. Agatha menatap ke arah ranjang dimana kini Aga tengah duduk bersandar di kepala divan sambil menatap kepadanya.
"Ada apa?" Tanya Aga menatap Agatha yang nampak tersenyum penuh maksud kepadanya.
"Kak Aga, apa boleh aku meminjam mobil Kakak untuk pergi ke rumah Amara sore ini? Kebetulan mobilku baru saja dibawa montir ke bengkel untuk diservis." Pinta Agatha seraya mengedip-ngedipkan kedua kelopak matanya.
"Yang bewarna merah saja, Kak." Agatha menyebutkan salah satu mobil sport milik Aga.
Aga tak kuasa untuk menolak. Terlebih wajah penuh harap Agatha membuatnya luluh saat ini. "Baiklah." Jawab Aga hingga membuat senyuman di wajah Agatha terkembang sempurna.
Agatha membuka lebar pintu kamar Aga karena ingin melesatkan tubuh ke dalam kamar untuk mengambil kunci mobil milik Aga. Setelah mendapatkan apa yang Agatha inginkan, Aga tak langsung membiarkan Agatha pergi meninggalkan kamar. Ia menahan pergerakan Agatha lebih dulu hingga membuat Agatha bingung menatap wajahnya.
"Jam berapa kau akan pergi ke rumah Amara?" Tanya Aga.
"Jam tiga sore, Kak. Ada apa?" Tanya Agatha.
"Tidak apa-apa. Apa pria itu akan ikut bersamamu pergi ke rumah Amara?"
"Pria siapa yang Kakak maksud? Rendra?" Agatha memperjelas.
"Ya. Siapa lagi jika bukan dia."
"Oh, aku rasa tidak, Kak. Rendra pasti lelah saat ini setelah berjuang pergi menjemput pujaan hatinya." Agatha berkelakar namun tak membuat Aga tertawa atau tersenyum mendengarnya. Aga justru menatap wajahnya dengan tatapan dingin.
Agatha menahan senyum dalam hati melihat tatapan tak bersahabat Aga saat ini. "Kak Aga, sebelum diambil orang, lebih baik Kakak jujur saja pada perasaan Kakak sendiri. Jika cinta maka katakan cinta sebelum Kakak menyesal nantinya." Ucap Agatha hati-hati. Entah mengapa akhir-akhir ini Agatha melihat sikap Aga yang sedikit berubah saat menatap Amara atau mendengar nama Amara disebut.
"Kau ini bicara apa?" Sahut Aga.
"Aku rasa Kakak mengerti jelas maksudku, Kak. Masih ada waktu jika Kakak ingin kembali mengambil hati Amara sebelum hatinya terisi penuh oleh nama pria lain."
***