
"Tidak ada yang harus disalahkan, Kak. Sudahlah, jangan membahas hal kemarin lagi. Aku sudah tidak apa-apa." Pinta Amara. Karena semakin Aga mengingatkannya pada kejadian kemarin maka akan membuatnya semakin sakit.
Aga mengangguk mengerti dengan permintaan Amara saat ini. Dengan kondisi Amara yang masih sakit, ia tak boleh menambah pemikiran Amara.
Pandangan Aga pun beralih pada Agatha yang kini berada cukup jauh dari ranjang. "Kenapa tadi pagi kau tidak memberitahu Kakak jika Amara dirawat di rumah sakit?" Tanya Aga dengan tatapan menuntut.
"Karena aku juga baru tahu setelah berada di butik. Jika aku tahu sejak kemarin, aku pasti sudah pergi ke rumah Bibi dan Paman menjenguk Amara."
Aga menghela napas. Ternyata semua orang memang bersekongkol menyembunyikan sakit Amara darinya.
"Aku tidak menyangka jika di perusahaan kita masih ada wanita-wanita julid seperti mereka. Ingin sekali aku menghajar mereka kalau tidak ingat dosa!" Gerutu Agatha. Wajahnya nampak kesal. Bagaimana tidak, ia sudah mendengar cacian dan tuduhan Ane dan Sisil pada Amara dari Ibu Fatma setelah tadi ia memaksa menceritakannya.
"Gatha, sudahlah..." Amara menggelengkan kepala.
"Maafkan aku, Mara." Agatha akhirnya tak melanjutkan perkataannya. Mengingat jika sebentar lagi ada jadwal pertemuan dengan salah satu klien di butiknya, Agatha pun terpaksa berpamitan untuk pergi.
"Kata Kak Dara jika suhu tubuhmu semakin turun nanti siang, kau sudah boleh pulang sore ini. Jika benar begitu, jangan lupa kabari aku. Aku akan kembali ke sini dan ikut membawamu pulang." Pesan Agatha.
Amara menganggukkan kepala. "Iya. Nanti aku akan mengabarimu. Sekarang pergilah. Semoga pekerjaanmu berjalan lancar."
Agatha mengangguk kemudian mengalihkan pandangan pada Aga. "Kak Aga, jika kemarin Amara yang merawat Kakak saat sakit, maka sekarang saatnya Kakak yang merawatnya."
Aga mengangguk paham tanpa bersuara.
Setelah mendapatkan respon dari Aga, Agatha pun berpamitan untuk pergi. Daniel yang tak ingin mengganggu Amara dan Aga pun ikut berpamitan pergi. Ia ingin menghampiri mertuanya yang sepertinya saat ini masih berada di dalam kamar khusus yang ia sewa tadi subuh untuk tempat istirahat mertuanya.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Aga lembut. Ia bertanya sebab tak melihat piring bekas makan Amara di sekitar ranjang.
"Sudah, Kak. Piringnya sudah dibawa keluar oleh cleaning service." Jawab Amara yang seolah mengerti kemana arah pertanyaan Aga saat ini.
Aga mengulas senyum tipis. Walau sebenarnya pagi ini ia harus mengurus permasalahan perusahaan cabang keluarga mereka di luar negeri, namun Aga memilih memprioritaskan Amara.
"Kak Aga kenapa memilih tetap di sini? Apa Kakak tidak bekerja?" Tanya Amara.
"Tidak. Aku mengalihkan pekerjaanku di sini." Jawab Aga seadanya.
Amara jadi sungkan mendengarnya. Dari informasi yang ia tangkap kemarin, sepertinya perusahaan Aga sedang dalam masalah. Dan pagi ini Aga bukannya mengurus permasalahan keluarga justru merawatnya.
Tanpa diduga, Aga meraih sebelah tangan Amara yang tak terpasang infus dan menggenggamnya. Merasakan pegangan tangan Aga membuat Amara merasa gugup dan kedua pipinya jadi merona.
"Amara, aku tidak tahu hal apa yang akan terjadi kepadamu ke depannya jika aku sedang tidak berada bersamamu. Maka untuk mengantisipasi hal buruk akan terjadi ke depannya kepadamu, bolehkan aku meminta suatu hal kepadamu?" Tanya Aga bersungguh-sungguh.
"Apa itu, Kak?" Tanya Amara dengan jantung yang berdetak cepat.
"Jadilah istriku, Amara. Dengan kau menjadi istriku, aku bisa memiliki banyak waktu untuk menjagamu dan tidak akan aku biarkan ada lagi yang berani mengusikmu. Percayalah kepadaku, Mara. Aku sungguh mencintaimu."
***