Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Akal Bulus Zeline


"Zel sudah siap, Anty!" Zeline berteriak memberitahu Amara jika dirinya sudah selesai bersiap-siap untuk maraton di sekitar komplek pagi ini. Ya, pagi ini Amara mengajak Zeline untuk maraton berniat menghilangkan kesedihannya karena Rendra. Amara tidak ingin lagi bersedih karena seorang pria yang bukan jodohnya.


Amara yang masih memasang sepatu di kakinya pun mempercepat pergerakannya. Setelah siap, ia segera menyusul Zeline yang kini sudah berdiri menunggunya di depan teras rumah bersama ibu.


"Anty lama sekali. Zel kan sudah tidak sabar mau lari!" Gerutu Zeline lalu mencebikkan bibir.


"Menunggu sebentar saja dibilang lama. Dasar centil!" Amara mengusap rambut keponakannya yang sudah dikepang oleh Ibu.


"Nenek, lihat Anty rusakin rambut Zel!" Zel nampak sebal.


Ibu yang melihatnya menggelengkan kepala. "Mara, jangan menjahili keponakanmu terus." Peringat ibu.


Amara tersenyum lalu menganggukkan kepala. Setelahnya ia berpamitan pada Ibu membawa Zeline untuk maraton ke sekitar komplek.


Zeline yang nampak sangat bersemangat langsung saja berlari tanpa menunggu Amara.


"Dasar centil, dia itu selalu saja begitu." Amara menggelengkan kepalanya lalu menyusul langkah Zeline.


Walau umur Zeline belum terlalu besar, namun stamina putri kecil Daniel itu tak bisa diragukan. Buktinya saja Zel tidak mengeluh saat ia dan Amara sudah maraton cukup jauh dari rumah.


"Capek tidak?" Tanya Amara setelah menghentikan pergerakannya.


"Tidak, Anty. Zel masih kuat lari ini!" Seru Zeline bersemangat.


Amara tersenyum melihat keponakannya yang begitu semangat dibandingkan dirinya. "Jalan dulu saja, ya. Antynya yang capek ini."


Zeline mengangguk saja. Keduanya pun terus berjalan melewati rumah yang ada di komplek. Sambil berjalan, Amara melihat ke kiri dan ke kanan menyapa tetangganya yang sedang beraktivitas di luar rumah. Ada yang sedang menyapu halaman dan ada juga yang sedang bercerita bersama anak dan suaminya di depan rumah.


Setelah cukup jauh berjalan, Amara pun mengajak Zeline untuk pulang. Ia tidak ingin Zeline jadi kelaparan karena terlalu lama melewatkan sarapan paginya.


Setelah kembali berada di dalam rumah, Amara segera mengajak Zeline untuk membersihkan tubuh. Setelahnya menyuruh Zeline untuk ke dapur meminta sarapan pada ibu sedangkan dirinya bergantian untuk mandi.


"Eh, sayang Nenek sudah siap mandi, ya." Ucap Ibu.


Zeline mengembangkan senyum. "Sudah, Nek. Sudah cantik gini Zel, Nek."


Ibu tersenyum saja meresponnya.


Zeline pun segera duduk di atas kursi makan sambil menunggu ibu menyalin makanan ke dalam piring. 


Saat sudah menerima piring berisi nasi goreng kesukaannya, Zeline pun teringat akan sesuatu. "Nenek, boleh Zel pinjam ponsel Nenek?" Pinta Zeline. Ia sempat melirik ke arah pintu masuk dapur sebelum bertanya.


"Untuk apa Zel pinjam ponsel Nenek?" Ibu nampak bingung.


"Zel mau telfon Om Aga, Nek. Kangen Zel tuh sama Om Aga. Mau ajak Om Aga main sini."


Ibu nampak ragu untuk memberikan ponselnya pada Zeline. Namun setelah melihat wajah memelas andalan Zeline akhirnya membuat Ibu tak kuasa untuk menolak.


"Baiklah, ini." Ibu mengeluarkan ponsel dari saku dasternya lalu menyerahkannya pada Zeline.


Zeline mengembangkan senyum. Ia segera turun dari atas kursi lalu berjalan menjauhi Ibu. 


"Kenapa telfonnya jauh-jauh sih?" Tanya Ibu pada Zeline yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Supaya Nenek tidak dengar. Eh, maksud Zel supaya Zel tidak terdengar ribut, Nek." Jawab Zeline.


***


Follow instagram @shy1210 ya untuk seputar info karya🤗